Rakyat Mesir Anti Amerika, Qatar Dan Israel

Kairo
Ribuan warga Mesir
kembali tumpah ruah
di jalanan ketiga kota
yang ada di dekat
Terusan Suez.
Mereka berdemo
menentang
pemberlakuan jam
malam di tiga kota
tersebut oleh
Presiden Mohamed
Morsi.

Para demonstran
memenuhi jalanan
kota Port Said,
Ismailiya, dan Suez
City sejak Senin
(28/1) malam.
Padahal terhitung
sejak Minggu (27/1),
presiden Morsi
memberlakukan jam
malam mulai pukul
21.00 hingga pukul
06.00 waktu
setempat.

Demonstrasi tersebut
dengan terang-
terangan
mengabaikan aturan
jam malam tersebut.
Para demonstran pun
meneriakkan slogan
yang melawan
pemerintah Mesir.
“Jatuh, jatuhlah rezim
penguasa (Ikhwanul
Muslimin),” teriak
para demonstran
merujuk pada
Presiden Morsi yang
berasal dari Ikhwanul
Muslimin, para demonstran juga meneriakkan, “Mampus Qatar diktator”! Karena rezim Qatar sangat aktif dalam mendukung Israel. seperti
dilansir Sydney
Morning Herald,
Selasa (29/1/2013).

Salah seorang
demonstran di kota
Port Said
memperjelas maksud
aksi warga tersebut.
“Kami turun ke jalan
karena tidak ada
satupun pihak yang
mampu memaksakan
kehendaknya kepada
kami. Kami tidak
akan tunduk pada
pemerintah,” tegas
Mahmud Abu al-
Majd.

Sedangkan di kota
Ismailiya, para
demonstran bahkan
sengaja menunda
acara nonton bola
bareng demi ikut
serta dalam
demonstrasi
menentang jam
malam tersebut.
Televisi nasional
setempat
melaporkan, ratusan
orang di Suez City
turun ke jalan untuk
berunjuk rasa.

Pada Minggu (27/1)
kemarin, Presiden
Morsi menyatakan
keadaan darurat di
tiga kota, yakni Port
Said, Suez dan
Ismailiya. Keadaan
darurat ini akan
diberlakukan selama
30 hari ke depan,
terhitung semenjak
Minggu (27/1)
malam.

Sementara itu,
mantan calon
presiden dan pendiri
“Strong Egypt Party”
Abdel-Moneim Abul-
Fotouh mengatakan
bahwa Mesir
mempunyai jalan
panjang untuk
mewujudkan
revolusi, dan
menyeruk
masyarakat untuk
mengakhiri dominasi
AS atas negaranya.

“Kami tidak
melakukan revolusi
untuk menggulingkan
sistem dan kemudian
memberdayakan
sistem serupa, karena
kita tidak ingin tetap
berada di bawah
hegemoni AS setelah
revolusi. Dan kami
tidak ingin bantuan
AS membuat
pemerintah hanya
memenuhi kepuasan
Washington pada
keputusan
pemerintah, ” kata
Abul-Fotouh kepada
Fars News Agency
pada hari Senin,
28/01/13.

Dikatakannya,
sebenarnya
penyebab dan faktor
revolusi, tidak hanya
mengubah sistem
pemerintahan, tetapi
juga mengakhiri
korupsi yang
mengakar dalam
tubuh pemerintahan.
Dalam sambutannya
yang relevan awal
bulan ini, mantan
calon presiden Mesir
itu juga mengatakan
bahwa Presiden AS
Barack Obama akan
meninggalkan
Presiden Mesir
Mohammad Morsi
jika ia tidak lebih
berguna bagi
kepentingan
Washington seperti
yang Gedung Putih
lakukan kepada
Hosni Mubarak.(deleteisrael)

Source: Sydney Morning Herald


Share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s