Narasi Maulid: “Muhammad” Sang Nabi


Ahli Kisa’

Oleh: Mohsen Labib

Nun jauh di sana..

dinegeri Roma,

Tatkala hening meranggas di
istana yg megah,
dan
satwa-satwa malam
sedang
menyelenggarakan
konser rutin di
semak-semak kebun
yang rimbun dan
basah,
tiba-tiba sang
kaisar terjaga dengan
wajah kuyu
bersimbah peluh lalu
memanggil-manggil
juru takwil mimpi
yang tak lagi diingat
namanya.

Dengan tergopoh-gopoh,
sang penakwil berlari
menghadap
juragannya yang
terbujur lunglai di
atas ranjangnya.

“Hai,” teriaknya
membahana.
“Dalam
tidurku kulihat
kerajaan Romawi
tumbang dan
istananya runtuh lalu
berubah menjadi
tumpukan puing yang
betapa mengerikan,”
ujarnya tersengal-
sengal.

Penakwil tua
itu menundukkan
kepala sambil
berbisik:
“Baginda,
telah terlahir bayi di
Arabia sana yang bernama..
MUHAMMAD“.

Di lorong Salam yang
tenang,
di sepetak
bangunan yang
remang,
di bilik
sempit yang
temarang,
di
kampung Tihamah
yang lengang,
di
jantung Bakkah yang
gersang,
di persada
Jazirah yang
kerontang,
sinar
misterius
menghunjam persada
dan membedah
malam pertengahan
Rabi’ul awwal.

Cahaya bundar
menembus
menghantam mega-
mega bergelayut di
cakrawala,
Cahaya bundar
melesat mengoyak
busana punggung
persada penuh noda.
Cahaya bundar
bersinar dan serpihan-
serpihanpun menikam
gulita.
Cahaya bundar
berpendar dan
dayang dayangpun
bernyanyi berdansa.
Cahaya bundar
menyebar, dan
rubah-rubahpun
tertegun melepas
suara.
Cahaya datang
bersambut derit
jendela reot rumah
nan sahaja.
Cahaya datang
beriring dawai semilir
berdesah di altar
semesta,
lalu terdengar
kumandang,

“Selamat menggigil,
cukong-cukong
tamak…
Selamat
berhamburan, tuhan-
tuhan bertulang

Selamat berjatuhan,
raja-raja jorok
Selamat ketakutan,
seniman-seniman
cabul di pasar ukaz
Selamat bangkrut,
saudagar-saudagar
budak…

Berpestalah, hai kuli-
kuli gratis juragan-
juragan Quraisy
Bergembiralah, hai
kaum buruh di ladang
Umayyah
Kumandangkan lagu
kemerdekaan…
Gelarlah permadani
merah demi
menyambut dia yang
bernama, “MUHAMMAD!”

Mentari menyingsing
dan menyongsong.
Purnama menyeruak
dan menyapa.

Gemintang berkilau
dan menyambut.

pelangi berhias dan
mendaulat.

Ka’bah menyala dan
mengucapkan,

“SELAMAT DATANG…!”
“SELAMAT LAHIR..!”

Kepada debur ombak
rabbani yang
bergulung
menghempas buih
syaithani..

Kepada desah nafas
subuh
yang
berhembus lembut
segarkan pori-pori
fitrah…

Kepada rinai-rinai
iman
yang
berguguran membilas
sahara Hijaz…

Kepada sepoi-sepoi
sejuk yang meniup
pucuk dedaunan
korma…

Kepada simponi
tangkai zaitun yang
bergesekan laksana
biola…

Kepada mawa api
tauhid
yang menjilat
gelap syirik…

Kepada untaian syair
ilahi
yang abadi…

Kepada rangkaian
firman yang suci…

Kepada penguasa
altar malakut yang
menghadirkan
gelegar dahsyat di
langit…

Kepada buhulan
rindu, muara cinta…

Kepada kuasa Musa,
kasih Yesus, damai
Budha, hikmah
Socrates, logika
Aristo, ide Plato, aura
Zoroaster dan
wibawa Lao Tse

Kepada pemuka para
kohen, santo dan
imam

Kepada utusan Sang
Khuda
, duta Sang
Theos
, pewarta Sang
Hyang
dan Rasul
Allah

Kepada Sebab
Kedua
,dan Akibat
Pertama

Kepada Sang Rahmat

Kepada dia yang
bernama…
MUHAMMAD!”

Bertapa dalam gua
gelap Tsur..
Bersemedi dalam
lembah Hira..
Menggigil dalam
kesendirian lereng
Arafah..
Menggelinjang dalam
asmara Lahut..
Menggigil dalam
pelukan Sang Jalal..
Mengerang dalam
kehangatan Sang
Jamal
..

Bergejolak dalam
pesta malaikat..
Menanggalkan
busana raga..
Hilang dalam Ada!

Ia datang, dan kau
tengadahkan muka,
menyongsong
kucuran khamar tak
bercawan.

Ia datang, dan kau
pejamkan mata,
meresapi sentuhan
hangat tak bertangan…

Ia datang, dan kau
tundukan kepala,
mengendus wangi
kesturi tak berdahan…

Ia datang, dan kau
campak-kan raga,
mengelepar gelapar
dalam cahaya tak
berwarna..

Dan jadilah kau Nabi
bernama “Muhammad!”

Ia kembali memasuki
nasut,
dilumuri kotoran onta
di Haram,
dilempar bebatuan
bocah-bocah Thaif.

Bermandikan darah
di Uhud,
bersenda jenaka di
hadapan yatim,
menghibur para janda
syuhada,
berhari raya dengan
gelandangan.

Bergaul dengan kaum
cacat dan kusta,
bersukacita didatangi
tamu tuna netra,
berjalan menunduk di
keramaian,
mencium tangan
pekerja kasar,
memaafkan kala
berkuasa.

Membantu sebelum
diminta,
berbalik tubuh bila
diseru,
menegur tanpa
menunggu,
bermurah dengan
senyum,
menggali parit dan
sumur,
tidur dengan bantal
batu,
menawarkan tenaga untuk bekerja.

Keluar masuk pasar
dan berseru, “akulah
Sang Utusan,
akulah Nabi bernama
MUHAMMAD!”

Muhammad, Sang
Nabi…

Nabi para prajurit
tahan banting bagai
Miqdad!

Nabi para
cendekiawan kelana
kebanaran bagai
Salman!

Nabi para budak
berhati salju bagai
Bilal!

Nabi para aktivis
segala medan bagi
Ammar!

Nabi para panglima
sebatang kara bagai
Asytar!

Nabi para duta
perdamaian bagai
Ja’far!

Nabi para
demonstran anti
korupsi bagai Abu Dzar!

Duhai MUHAMMAD,

Di tengah umatmu
ada segerombolan
orang yang
mengusung jargon-
jargon agama lalu
melakukan privatisasi
penafsiran teks sambil
menyemburkan
tuduhan sesat kepada
kelompok lain.

Di tengah kami ada
yang mengkafirkan
dan menghalalkan
darah sesama muslim
hanya karena
berbeda pandangan
dan mazhab.

Percaya pada agama
Tuhan, tapi menawar
firman-Nya…

Mengharap keadilan
tapi, menyepelekan
janji-Nya.

Menentang
kezaliman, tapi
mendekap absurditas..

Meyakini
Muhammad,tapi
menelikung wasiatnya..

Mengaku relijius, tapi
benci toleransi?

Ejakulasi dalam nalar,
gagap dalam wacana
Narsis tanpa riasan,
mabuk ortodoksi.

Manusia linglung ,
manusia bingung,
libur nalar, cuti logika
“manusia tapi”,
Manusia yang tak
mengenal siapa
Muhammad?”

Dan kini Muhammad
berbalik lalu menatap
kita dengan mata
nanar dan kecewa.

Menatap kita yang
nongkrong di atas
peta kebobrokan atas nama
modernitas.

Kita yang jongkok di
atas tengkorak
kebodohan dan
fanatisme

Kita yang merangkak-
rangkak di sudut
mihrab sambil
mengharapkan sorga
hanya dengan
menggelindingkan
butir-butir kaca..

Kita yang berjingkrak
di atas derita sesama
manusia demi klaim
kebenaran yang semu

Kita yang menghunus
pedang dan
meletakkannya diatas
leher para pecintamu
atas nama mazhab.

Sampaikan salam
kami kepada Ali yang
dikhianati..

Kepada Zahra yang
dijadikan pesakitan..

Kepada Hasan yang
terkulai oleh racun..

Kepada Husain yang
diinjak puluhan kaki
kuda

Kepada jiwa-jiwa yang
bersemayam di arena
Nainawa

kepada matahari-
matahari ilahiah

Kepada para wanita
dewi-dewi sahara

Kepada karavan
penanti Fajar Keadilan

Kepada setiap insan
yang rela disesatkan,
dikafirkan, diserang,
difitnah, diburu,
dibunuh dan dikirim
ke lembah
keterasingan seraya
memekik “Pantang
Hina!”

Kepada para korban
sayembara pahala
“Fatwa Sesat” oleh para
pendeta Kerajaan
Kebencian.

Maafkanlah kami…


Share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s