Gus Mus dan Buya Syafi’i Maarif: Luncurkan Buku Ilusi Negara Islam

ilusi_negara_islam.jpg“Sekali lagi, perbedaan tak sepatutnya dipertentangkan hingga menjadi sumber malapetaka. Bahasa yang berbeda antar bangsa kemudian dicarikan padanannya, dirujukkan persamaannya, lalu dihimpun dalam kamus“

KH. Achmad Mustofa Bisri atau yang dikenal dengan Gus Mus, tokoh pemuka agama Islam Indonesia meluncuran buku “Ilusi Negara Islam” versi Bahasa Inggris di Parlemen Eropa, yang dihadiri sejumlah politisi Uni Eropa, di Brussel. Dubes RI di Brussel,Arif Havas Oegroseno dan Dr. Werner Langen, anggota Parlemen Eropa asal Jerman yang menjabat sebagai Ketua Delegasi Parlemen Eropa untuk negara di kawasan Asia Tenggara dan ASEAN, menjadi tuan rumah bersama peluncuran buku yang sebelumnya diluncurkan di Indonesia dan mendapat sambutan positif dari masyarakat.

Dr. Langen, yang baru saja berkunjung ke Indonesia bulan Februari lalu, menyampaikan kebanggaannya menjadi salah satu promotor peluncuran buku yang baginya penting untuk memberikan horison yang lebih luas kepada masyarakat Eropa mengenai Islam.

Buku setebal 322 halaman ini diterbitkan atas kerja sama Gerakan Bhineka Tunggal Ika, the Wahid Institute dan Maarif Institute; merupakan hasil penelitian lapangan dan konsultasi selama lebih dari dua tahun.Menurut Dr. Langen, upaya menjelaskan gambaran Islam di Indonesia yang toleran adalah sejalan dengan salah satu prinsip Uni Eropa, yaitu mendukung dan memajukan dialog antar agama dan antar budaya di Eropa.

Sebuah langkah yang besar dan monumental. Perbedaan pandangan serta kesalah pahaman tak dibiarkan berlarut-larut. Gus Mus, dengan kerendahatian, telah memilih untuk berkunjung, berdialog. Ada yang bertanya, ada yang menjawab. Boleh jadi, tak semua pertanyaan terungkapkan. Juga, tak semua jawaban memuaskan. Namun, dengan dialog tatap-muka, telah terjalin silaturahim yang secara bertahap akan menumbuhkan saling pengertian. Demikianlah agaknya hakekat sebuah dialog.

Bahwa perbedaan pandangan tak sepenuhnya bisa disatukan serta disamakan dalam dialog, itulah khasnya manusia. Meski demikian, itu bukan alasan untuk tak bisa saling mengerti, saling memahami. Laki-laki dan perempuan sesungguhnya sangat berbeda tapi toh bisa hidup rukun bersama dalam rumah tangga. Gereja dan masjid sesungguhnya juga berbeda tapi nyatanya bisa berdiri berdekatan, hanya bersebelahan dinding. Bangsa-bangsa pada dasarnya juga berbeda tapi nyatanya bisa menghimpun diri dalam Perserikatan Bangsa Bangsa.

Sekali lagi, perbedaan tak sepatutnya dipertentangkan hingga menjadi sumber malapetaka. Bahasa yang berbeda antar bangsa kemudian dicarikan padanannya, dirujukkan persamaannya, lalu dihimpun dalam kamus. Misalnya, Kamus Bahasa Indonesia-Inggris. Orang Indonesia akhirnya paham bahwa yang dimaksud orang Amerika “eat” berarti makan. Sebaliknya, juga demikian. Jutaan kata-kata dan istilah, dicarikan padanannya serta persamaannya agar bisa dipahami kedua pihak atau banyak pihak. Dengan saling memahami maksud dan kehendak, tentu komunikasi bisa dijalin lebih intens.

Penuh makna.

Demikian juga halnya dengan pemerintahan. Kedutaan negara-negara asing didirikan di Indonesia, sebaliknya kedutaan Indonesia juga didirikan di berbagai negara tersebut. Semua itu adalah bagian dari tanda-tanda kehendak untuk bersahabat, membangun saling pengertian. Karena itulah Gus Mus merumuskan “The Illusion of an Islamic State” sebagai padanan dari Ilusi Negara Islam. Agar maksudnya sampai, agar tujuannya tercapai. Agar tak menimbulkan kesalahan pemahaman karena kesalahan memahami makna kata.

Rasa pun demikian juga. Rasa sakit di Kutub Utara sana agaknya sama dengan rasa sakit di ujung Merauke sana. Karena itulah, ketika gempa bumi meluluh lantakkan bumi nusantara ini, bangsa-bangsa lain berduyun-duyun memberikan bantuan. Kenapa? Karena mereka juga bisa merasakan derita bangsa ini. Sebaliknya, dalam kondisi yang kekurangan, negeri ini mengirimkan bantuan ke Jepang saat Negeri Matahari Terbit itu dilanda bencana gempa bumi. Padahal, Jepang telah menjajah negeri ini bertahun-tahun. Nenek moyang kita dibunuh mereka dengan kejam. Bukti-bukti kekejaman Jepang terhadap rakyat nusantara ini, cukup banyak. Namun, rasa kemanusiaan telah mengalahkan semua itu. Dendam masa lalu secara bertahap terkikis oleh saling pengertian, itikad baik untuk saling memahami.

Itikad baik untuk saling memahami itu pulalah yang membuat Gus Mus merasakan apa sesungguhnya yang dirasakan bangsa lain. Ketika Amerika Serikat di era George Bush menggempur Irak September 2001, Gus Mus merasakan kepedihan rakyat Irak. Ia menuliskan kepedihan serta sikapnya atas penggempuran itu dalam puisi. Pada sebuah acara di atas panggung, Gus Mus memberikan puisi itu kepada Iwan Fals untuk dijadikan lagu. Iwan tentu saja tidak bisa menolak dan kemudian membuat lagu dari puisi itu , “Aku Menyayangimu”:

(Bersambung ke bagian 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s