Ketua Umum PBHMI Sholat Jum’at Bersama Para Mullah di Iran

jumat iran.jpg
Foto: Tapi ada satu hal yang tidak biasa kami saksikan dalam sholat jum’at di manapun, yaitu slogan-slogan dan yel-yel anti Amerika dan anti Israel setelah
Jumatan. Jamaah
semuanya berteriak,
“persetan Amerika,
binasalah Israel”
dengan tangan
mengepal diangkat
ke atas.

Future– Jumat pagi, dini hari kami menginjakkan kaki di bumi para Mullah, Iran. Pesawat Qatar Airlines yang kami tumpangi mendarat dengan mulus dibandara internasional Imam Khomeni. Kami langsung dijemput panitia menggunakan taksi menuju hotel tempat kami menginap.

Hotel “Laleh”
Internasional tempat
kami menginap adalah salah satu hotel terbesar di kota Tehran. Meskipun merupakan
hotel milik lokal,
namun hotel tersebut masuk
dalam kategori hotel
bintang lima. Jangan
dibayangkan ada
merk-merk hotel
internasional di sini.
Hyatt, Hilton, Nikko,
dan sebagainya yang
biasanya kita bisa
temui ditiap Negara, tapi di Tehran tidak kami temui.
Semua merek hotel
adalah lokal.
Demikian juga
dengan dengan merk
makanan globalisasi
seperti McDonald,
PizzaHut, Starbucks,
dan sebagainya tidak
kami temukan.
Hampir semuanya
adalah local.

Sungguh, ini adalah
sebuah perlawanan
terhadap neoliberalisme
yang kongkret. Sangat
kongkret, tidak
hanya sekedar slogan
sebagaimana di
negeriku, Indonesia.

Iran adalah sebuah
contoh Negara yang
berhasil melakukan
perlawanan total
terhadap kapitalisme.
Hari pertama kami
sampai adalah satu
hari menjelang acara the konferensi 6 Gathering of the Union of Islamic World Students.
Peserta dari utusan
Negara-negara Muslim belum semuanya hadir.

Kami hanya bertemu
dengan peserta dari
Aljazair, Chad, dan Sudan.
Setelah istirahat
sejenak oleh panitia
kami diajak untuk
ikut sholat Jumat
yang dipusatkan di
kampus Universitas
Tehran. Berbeda
dengan Negara-negara lain yang setiap masjid bisa menyelenggarakan shalat Jumat,
Jumatan di Tehran hanya
diselenggarakan di satu tempat, Kampus Universitas Tehran.

Dalam tafsir Syiah,
yang dimaksud bilad
(satu daerah dimana
diwajibkan sholat
Jumat) adalah dalam
satu provinsi. Hal ini
berbeda dengan
definisi bilad dengan
Negara kita, setiap
kampung atau desa
bisa mendirikan
sholat Jumat masing-
masing (bahkan tidak jarang dalam satu rt ada dua tempat sholat jumat).

Maka tak heran jika
yang jamaah Jumat di
Tehran jumlahnya
ribuan. Mereka
berdatangan dari
berbagai penjuru kota menggunakanbus-bus dan angkutan lainnya. Baik laki-laki maupun
perempuan diperbolehkan untuk datang sholat Jumat.
Saking banyaknya jamaah, area tempat penyelenggaraan
shalat Jumat tidak
mampu menampung
semua jamaah.

Orang membuat shaf-shaf di mana-mana, di jalan, di emperan gedung fakultas, dan sebagainya. Untuk menjangkaukan suara khutbah kepada jamaah, dipasanglah loudspeaker di setiap sudut kampus, sehingga jamaah sholat jumat yang membuat shaf berjarak ratusan
meterpun bisa mendengar.
Sebagai tamu, kami
mendapat perlakuan
istimewa oleh panitia. Kami
dibawa masuk ke shaf bagian depan dimana hanya orang-
orang tertentu saja yang biasanya menempatinya.

Security pada saat penyelenggaraan shalat Jumat sangat
ketat, sehingga tidak sembarang orang bisa duduk dalam
shaf bagian depan.
Shaf bagian depan dibatasi oleh plang-plang besi setinggi
satu meter untuk
mencegah shaf bagian belakang merengsek ke depan.
Untuk masuk ke area
jumatan pun pengamanannya
sangat super ketat.

Kami tidak boleh membawa apapun, termasuk HP, ke
dalam area.
Disamping itu, kami
juga harus melewati
beberapa pintu pemerikasaan dan penggeledahan pakaian
oleh petugas keamanan. Jika bukan atas lobi panitia yang sepertinya punya hubungan khusus dengan para petinggi Iran, kami tentu tidak
bisa begitu saja
masuk ke area shaf
sholat Jumat bagian
depan. Itupun kami
harus digeledah beberapa kali oleh petugas keamanan untuk memastikan bahwa kami tidak akan membuat
keributan saat Jumatan. Kami
menanyakan kepada salah satu panitia, “kenapa pengamanan begitu ketat walaupun hanya sekedar sholat Jumat?” Beliau
menjawab, “bahwa pada suatu saat, pernah ada kasus seseorang tiba-tiba meledakkan bom saat para jamaah khusuk melakukan sholat.”

Tentu kami merasa
istimewa bisa masuk
dalam barisan depan
bersama para petinggi Negara Iran dalam melakukan sholat Jumat tersebut.

Untuk mengerti isi khutbah,
kami diberi alat kecil seperti radio kecil lengkap dengan
earphonenya untuk
kami mendengarkan
terjemahan khutbah
dari Bahasa Persia ke
Bahasa Inggris.
Khutbah diisi oleh
salah satu imam
besar dalam jajaran
dewan revolusi Iran.
Berhubung bulan
Ramadhan, isi
khutbah lebih banyak berkaitan dengan bagaimana
meningkatkan amalan-amalan
dalam bulan suci tersebut. Tidak ada yang istimewa dalam ceramah khutbah.

Tapi ada satu hal yang tidak biasa kami saksikan dalam sholat jum’at di manapun, yaitu slogan-slogan dan yel-yel anti Amerika dan anti Israel setelah
Jumatan. Jamaah
semuanya berteriak,
“persetan Amerika,
binasalah Israel”
dengan tangan
mengepal diangkat
ke atas.[deleteisrael]

Sumber: http://pbhmi.net/index.php?option=com_content&view=article&id=1026:ketua-umum-pb-hmi-sholat-jumat-bersama-para-mullah-di-iran&catid=85:kolom-ketua&Itemid=187

terkait: PB HMI: Menikmati Revolusi Iran Saat Sholat Jumat


Share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s