UGM: Diskusi dan Seminar Menelusuri Jejak-Jejak Syiah di Indonesia


Foto: “Sejarah Syiah nusantara dalam International Conference on Historical and Cultural Presence of Shias in Southeast Asia, di Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada 21 Februari 2013″

Fakta Sejarah– Mazhab Syiah ternyata memberikan pengaruh yang tidak sedikit pada perkembangan Islam dan kebudayaan di
Tanah Air.

Doktor Muhammad Zafar Iqbal dalam buku Kafilah Budaya meruntut fakta tentang pengaruh-pengaruh itu. Persisnya, pengaruh
Syiah di Ranah Minang, dari
perayaan tabut hingga berbagai istilah di bidang pelayaran.

Dalam buku Kafilah Budaya, di samping ulama, para pedagang dan mubaligh Iran juga
memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan Islam
di Tanah Melayu. Lewat merekalah agama yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW ini dikenal di Indonesia.

Untuk diketahui, Kerajaan Islam Perlak di Sumatra adalah
kerajaan Islam shiah pertama di Indonesia dan Asia Tenggara. Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Alauddin Said Maulana Abdul Aziz Syah pada 225
Hijriah atau 840 Masehi.

Syahdan, Raja Malaka Sultan Alauddin Syah mengangkat
putranya sebagai penguasa di wilayah Pelabuhan Pariaman.
Sang putra kemudian mengembangkan ajaran Syiah di daerah tersebut. Dalam buku itu
disebutkan juga, bahwa pasukan Dinasti Fatimiyah Mesir adalah yang membawa ajaran
Syiah ke Minangkabau. Di daerah tersebut, mereka berkuasa lebih dari 200 tahun.

Pada masa itu, Minangkabau
merupakan Kerajaan Islam Syiah yang sangat kaya. Menurut Arkeolog Islam Uka Tjandrasasmita, Islam yang dibawa oleh orang-orang Persia atau Iran ke Indonesia sudah berlangsung sejak
abad ke-7 Masehi. Namun, masuknya pedagang-pedagang
muslim dari Arab Saudi dan Iran ke daerah bagian Barat
Indonesia melalui Selat Malaka baru terjadi abad ke-7.

Para pedagang Iran juga
memperkenalkan Islam ke Jawa Tengah. Raden Fatah, raja Islam di Jawa saat itu, dikenal
dengan Syah Alam Akbar. Kenyataan tersebut menjelaskan, bahwa pengaruh Iran melebihi daripada sebelumnya.

Sementara itu, para sultan di Maluku juga berasal dari keturunan Ahlulbayt Rasulullah SAW. Pengaruh Iran terhadap Indonesia kebanyakan dalam bidang kebudayaan, kesusastraan, pemikiran, dan tasawuf. Melalui tasawuf dan kebudayaan Islam, kecintaan tersebut
menyebar ke negeri- negeri Islam lainnya dan karena itulah
kebudayaan Iran pun
dikenal.

Mengenai Ahlulbait, orang- orang Iran memiliki cara khusus untuk mengenang peristiwa
pembantaian Imam Husain AS pada bulan Muharram. Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Karbala ini merupakan sebuah pentas kepahlawanan dunia yang telah
mempengaruhi kebudayaan bangsa-bangsa nonmuslim.

Meski mayoritas muslim di Tanah Air bermazhab Syafii, hasil penelitian menunjukkan bahwa kecintaan muslim Indonesia kepada Ahlulbayt karena pengaruh orang-orang Iran.

Ongan Parlindungan dalam bukunya “Tuanku Rao” menulis bahwa orang-orang Syiah dari aliran Qaramitah telah memerintah di
Minangkabau selama 300 tahun. Namun, pemerintahan ini
tumbang akibat adanya gerakan Wahabi. Kelompok ini melakukan perlawanan yang dikenal Perang Padri pada awal abad ke-19 Masehi.

Dilaporkan, bahwa Kesultanan Pagaruyung di Minangkabau
dikuasai para penganut Syiah
Qaramitah. Adapun Kerajaan yang menguasai seluruh daerah Minangkabau berlangsung antara 1513 sampai 1804 Masehi. Di Kota Ulakan, orang-orang Syiah mendirikan sebuah perguruan tinggi di bawah
binaan Tuanku Laksamana Syah Bandar Burhanuddin Awal yang datang dari Aceh.


KEPOLISIAN DAERAH ACEH
RESOR ACEH TENGAH
SEKTOR LUT TAWAR
Jl. Syiah Utama-Dedalu


Salah satu pergurun tinggi Yang sampai sekarang berdiri adalah peninggalan Laksamana Syah Bandar Burhanuddin Awal dari Aceh

Di perguruan tinggi ini, sekitar 1.800 orang pintar Syiah Qaramitah melangsungkan kegiatan belajar-mengajar. Masih menurut Parlindungan, keberadaan mazhab Syiah semakin kuat di Minangkabau. Ini karena pengaruh pelaksanaan kegiatan ritual Tabut pada setiap bulan Muharram guna mengenang Imam Husain AS. Selain itu ada ritual Basafar, yakni ziarah ke makam Syekh Burhanuddin Ulakan di setiap Rabu
terakhir Bulan Shafar.

Ini sebagaimana orang-orang Syiah yang berziarah ke Imam
Maula Ali AS di Najaf dan ke Karbala guna berziarah ke Imam Husaian AS dan para Imam dari kalangan Ahlulbayt lainnya. Berkat usaha Syekh Burhanuddin Awal Tuanku Ulakan dan masuknya Sultan Minangkabau ke dalam Islam pada
akhir abad ke-16 masehi, ajaran Islam dari mazhab Syiah
telah tersebar di seluruh Minangkabau.

Menurut Budayawan Minang
Wisran Hadi, mudahnya tersebarnya mazhab Syiah di Minangkabau karena tidak berbenturan dengan ajaran lainnya, Sunni misalnya. Meski berbeda kata Wisran, perbedaan tersebut dijadikan bagian dari kehidupan. Apalagi konsep perbedaan itu dikekalkan hingga kini. “Semuanya jalan sampai sekarang,” kata Wisran.

Pengaruh Syiah juga terlihat pada ritual pembacaan doa
untuk terhindar dari musibah atau tolak bala yang disebut
dengan jampi Mantra dan pada tradisi pembacaan doa ratib. Masyarakat Melayu, misalnya, agar terhindar dari wabah penyakit akan membaca doa ini:

li khamsatun uthfi biha harral waba-i al-khatimah al-musthafa, wa al-murthada, wa ibnahuma, wa al-fatimah.

Artinya: Aku mempunyai Lima
pegangan, yang dengannya
kupadamkan penyakit-penyakit, yaitu Nabi (al-
musthafa) yang terpilih, Ali (al-murtadha) yang diridhoi dan kedua anak mereka, al-Hasan, al-Husain dan Fatimah.

Syiah hadir di Nusantara sejak
ribuan tahun lampau. Jejak sejarahnya bisa digunakan untuk meredam konflik Sunni-Syiah.

KETIDAKTAHUAN masyarakat terhadap sejarah dan ajaran
Syiah dinilai berperan dalam menyulut bara konflik Sunni-Syiah di Indonesia hingga sekarang. Karena itu, bangsa ini mudah labil dalam menyikapi perbedaan dua aliran besar
dalam Islam itu. Demikian dikatakan Husain Heriyanto,staf
pengajar Universitas Indonesia
, dalam International Conference on Historical and Cultural Presence of Shias in Southeast Asia, di Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada 21 Februari 2013.

Ketidaktahuan itu tak hanya menimpa khalayak awam, tetapi juga pemuka agama. Kala budayawan Agus Sunyoto duduk di bangku pesantren, gurunya berpesan
agar menjauhi ajaran Syiah. “Menurutnya Syiah itu anti-maulid, anti-wiridan, dan anti-ziarah. Padahal itu sebenarnya ajaran Wahabi,” kata Agus, penulis buku Atlas Wali Songo.

“Keberadaan dan pengaruh Syiah telah mengakar di
beberapa wilayah Nusantara sejak 1400 tahun lampau.”
Di Maluku Tengah, pengaruh ini terejawantah dalam bentuk tarian Ma’atenu. Tarian ini
diperkenalkan masyarakat
Hatuhaha. “Mereka adalah komunitas muslim tertua di Maluku yang terbentuk sejak abad ke-8. Pemimpin mereka beroleh nasab dari Ali bin Abi Thalib. Karena itu, tarian ini ditujukan sebagai bentuk pujian untuk Nabi Muhammad, Ali, dan
keturunannya.[deleteisrael]

Sumber: http://lib.ugm.ac.id/exec.php?app=simpus&act=search&lokasi=10&kriteria=pengarang&kunci=Diskusi+madzab+Syiah+Tertua+Di+Indonesia

terkait: MENDIKBUD Peringati Seribu Tahun Hubungan Indonesia dengan Iran


Share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s