Kemenangan Bassar Assad Melawan Teroris Wahabi Dukungan Israel, Turki, Qatar dan Arab Saudi


Foto ilustrasi: “satu-persatu para pemimpin negara yang mendukung teroris suriah terhapus dan terjungkal”

Wacana– Perlahan tapi pasti satu per satu kota strategis, salah satunya adalah Qusayr berhasil dikuasai oleh pasukan pro-Assad.

Setidaknya ada beberapa variabel mengapa Bassar bisa memenangkan pertarungan
ini, ditengah serangan kelompok radikal seperti ISIS, al-Nusra dan FSA yang didukung
oleh negara-negara besar seperti Amerika Serikat, UniEropa, Israel, Arab Saudi, Qatar dan
Turki.

1. Soliditas Internal.

Assad menyadari bahwa kekuatan terbesar dari Suriah adalah rakyatnya. Pemerintah tanpa dukungan rakyat yang besar, sama saja dengan kehancuran. Karenanya, Assad sudah mengantisipasi jauh hari pola-pola pretext war diinternal, dengan meng-counter isu sektarian dengan ideologi persatuan
kebangsaan yang berhasil mempersatukan semua agama, ras dan suku kedalam bagian Negara-Bangsa Suriah.

2. Dukungan Setia Negara Sahabat.

Assad paham bahwa negaranya memiliki posisi yang strategis, sebagai negara yang memiliki perbatasan dengan Lebanon, Turki, Irak, Israel, Jordania dan Laut Mediterania. Maka secara geo-politik dan geo-ekonomi Suriah adalah negara yang “seksi” untuk diperebutkan. Setidaknya Suriah dari sisi Geografi memiliki jalur yang strategis sebagai pipa penyalur pasokan gas dan minyak antara negara-negara Timur Tengah dan Eropa. Suriah yang telah menyepakati pembuatan
jalur gas dari Iran-Irak-Suriah
dengan nilai proyek mencapai 10 miliar dolar yang menghubungkan laut Kaspia-Laut Hitam- Teluk Persia dan Timur Lautan Mediterania, potensi ini mampu membuat Qatar bersama Turki sebagai negara penyuplai gas akan tersaingi, sehingga masuk akal jika kedua negara ini sangat menginginkan runtuhnya rezim Assad di Suriah. Selain itu, potensi minyak yang dimiliki oleh Suriah sendiri mencapai diprdiksi angka 2,5 Triliun Barrel!!! Melihat hal ini, maka Suriah ingin menunjukkan ke strategisannya pada negara-negara yang sejak awal mendukungnya seperti Iran, Rusia dan Cina bahwa melepaskan negaranya kedalam pengaruh FSA yang didukung oleh AS-EU-Israel-Qatar-ArabSaudidan Turki hanya akan membuat pengaruh dan kepentingan
ekonomi Iran, Rusia dan Cina lenyap di Timur Tengah.

Sehingga dengan faktor ini, Suriah-Assad mendapat dukungan setia dari Iran, Rusia dan Cina. Selain itu, Iran menjadi mitra terdekat Suriah, karena kepedulian Suriah-Assad dalam
mendukung resistensi gerakan muqawama Hizbullah yang di back-up oleh Iran dalam menghadapi Zionis Israel. Sudah
rahasia umum bahwa sebagian besar suplai senjata Iran kepada Hizbullah melalui Suriah. Dengan hal ini, maka Iran tak
akan melepaskan Suriah kepada kekuatan yang Pro- AS dan Israel. Karena apa bila lepas bisa menghancurkan cita-
cita Republik Islam Iran dalam melawan Israel, karena pasokan senjata untuk Hizbullah akan terputus.

Seorang pengamat Timur Tengah asal AS yaitu Hillary Mann Leverett pernah menjelaskan bahwa Hizbullah adalah ujung tombak melawan kekuatan Israel di Timur Tengah, dan badan dari Hizbullah adalah Suriah, sedangkan kepalanya adalah Iran. Sehingga
menurut analisis penulis, Israel dan AS menyadari hal ini
sehingga untuk menghapus kekuatan Hizbullah salah satunya adalah dengan menguasai
Suriah, dengan harapan mampu mereduksi kekuatan Hizbullah dan tentunya Iran.

Sehingga dengan rasionalitas seperti ini jangan heran jika
melihat dukungan besar Iran dan Hizbullah kepada rezim Assad di Suriah.

3. Suplai persenjataan dan kebutuhan pokok.

Dalam pertempuran faktor persenjataan dan kebutuhan pokok seperti makanan dan fasliitas kesehatan menjadi sangat penting. Suriah yang berusaha diisolasi oleh kekuatan- kekuatan anti-Assad ternyata tidak mampu memasukan senjata dan kebutuhan pokok ke Suriah. Hal ini berkat kerja sama
Suriah yang erat dengan negara-negara pendukung utamanya, terutama Iran dan Rusia.

Dalam sebuah release berita
terbaru menunjukkan bahwa
Rusia bersama Iran yang awalnya “terkesan” hanya membantu Suriah secara diplomatik kemudian membantu rezim Assad secara riil berupa persenjataan dan pasokan kebutuhan pokok setelah adanya intervensi militer asing masuk dalam
membantu pemberontak Suriah,yaitu Israel.

4. Kemenangan dalam konteks media-informasi.

Mengutip ucapan Noam Chomsky bahwa siapa yang menguasai media akan menguasai dunia, awalnya Suriah berada didalam posisi yang buruk dalam sudut pandang masyarakat dunia. Karena adanya sebuah rekayasa informasi dari media-media masa mainstream pendukung pemberontak Suriah, seperti BBC (Inggris),CNN (AmerikaSerikat) dan Aljazeera (Qatar) yang menunjukkan kekejaman rezim Assad.

Namun semakin lama waktu
berjalan, bentuk asli para pemberontak Suriah itu semakin terlihat, dibantu pemberitaan
media internasional seperti Russia Today (Rusia) dan Press Tv (Iran), serta media-media sosial seperti Facebook. Pemberitaan terkait konflik Suriah semakin berimbang, sehingga masyarakat mulai bisa menganalisa secara jernih kubu mana
yang sebenarnya ada dipihak yang benar.

Dan di saat pemberitaan media semakin berimbang, para pemberontak Suriah malah
semakin sering membuat adegan kontra-produktif seperti
pembunuhan terhadap tokoh
agamawan, pengrusakan
dan pembongkaran tempat-tempat suci, pemerkosaan bahkan pembunuhan keji, yang membuat dunia internasional semakin anti-pati, dan tentu ini akan membuat negara-negara demokrasi yang sebelumnya mendukung pemberontak
(yang ternyata kebanyakan dari Al-Qaeda), kemudian mulai
gamang.

5. Kegamangan ini, akhirnya menyempurnakan faktor
kemenangan pasukan rezim
Assad di Suriah.

Karena dilapangan terjadi selisih pemahaman (ideologi, tujuan dankepentingan) dan tindakan saling penggal antar para kubu pemberontak, terutama antara FSA (yang didukung oleh AS dkk.) versus Al-Nusra (yang didukung Al-Qaeda) di samping ISIS.

Akhir kata, penulis berharap kedamaian bisa terwujud diSuriah. Namun tetap dengan menjunjung tinggi proses demokrasi, bukan malah berupa intervensi militer, pemutus terbaik bagaimana bentuk Pemerintahan Suriah ke depannya berada di tangan rakyat Suriah itu sendiri, dan bukan di tangan para pemberontak yang ternyata kebanyakan berasal dari luar negara Suriah, lebih-lebih lagi bukan di tangan para pemerintah negara asing.[deleteisrael]

dudhiPenulis adalah Muhammad
Dudi Hari Saputra Mahasiswa S2 Hubungan Internasional, UGM.

Sumber: http://indonesian.irib.ir/wacana/-/asset_publisher/mkD7/content/bashar-al-assad-akan-menjadi-pemenang-di-suriah-mungkinkah

terkait:


Share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s