Ghadir Khum Realitas Sejarah yang Tak Terbantah

ghadirkhum.jpg“Man kuntu maula fa Aliyyun maula (Siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya)”

Alkisah seorang Arab menghadap Nabi saw: “Wahai Muhammad, engkau suruh kami untuk bersaksi bahwa tidak tidak ada Tuhan kecuali Allah dan bahwa engkau adalah utusan Allah. Kami menuruti perintahmu itu. Engkau suruh kami solat lima kali sehari dan kami taati. Engkau perintahkan kami berpuasa Ramadhan dan kami
ikuti. Lalu engkau suruh kami pergi haji ke Mekah dan kami ikuti perintahmu,” katanya kepada Nabi.

Lelaki (yang dalam bayangan saya kira-kira berwajah beringas dan kasar dengan berewok lebat danmenyeramkan) itu melanjutkan. Begini katanya: ” Tapi engkau (wahaiMuhammad) belum puas dengan semua itu… Kini engkau angkat lengan sepupumu dan menantumu(Ali bin Abithalib maksudnya), dan mengharuskan kami mengangkatnya sebagai pemimpin
kami dengan mengatakan ‘Ali
adalah pemimpin (mawla) bagi siapa saja yang menganggapmu sebagai pemimpinnya (mawla).’ Apakah ini perintah Allah atau dari dirimu saja?”

Dengan penuh kelembutan Nabi Al-Mustafa saw menjawab: “Demi Allah Yang Maha Esa! Ini datang dari Allah, Yang Maha Perkasa dan Maha Agung.”

Mendengar jawaban ini lelaki itu berbalik dan menuju untanya sambil berkata: “Ya Allah!Jika apa yang dikatakan Muhammad itu benar, maka jatuhkanlah batu dari langit dan biarlah kami mendapat siksa yang pedih.”

Belum sempat ia mencapai untanya, Allah menimpakan sebuah batu ke atas kepala orang itu, dan menembus badannya hingga ia tewas seketika. Atas kejadian inilah Allah,Yang Maha Suci, menurunkan ayat
berikut ini: Seorang penanya meminta (bukti) tentang siksa yang bakal terjadi.

Bagi orang-orang kafir (yang) tidak seorang pun dapat menolaknya, (yang datang) dari Allah, Yang memiliki tempat-tempat naik.(Qur’an 70:1-3)

Wahai Rasul,sampaikanlah apa yang telah diwahyukan
padamu dari Tuhanmu; dan
jika engkau tidak melakukannya(maka) engkau sama sekali belum menyampaikan Risalah-Nya; dan Allah akan melindungimu dari (gangguan) manusia. (QS. 5: 67)

Sebagian ulama ternama, ahli sejarah dan umat Islam didunia meyakini bahwa pernyataan
yang disebutkan dalam ayat Al-Qur’an (Surat 5, Ayat67) itu telah dipenuhi oleh Nabi (saw)dengan penunjukkan Imam Ali bin Abi Talib (a.s.) sebagai penerus tugas Nabi pada hari (ketika beliau berada) di Ghadir Khumm.

Apa yang sebenarnya terjadi di Ghadir Khumm hari itu?

Ghadir Khumm adalah sebuah tempat terletak beberapa km dari Mekah menuju arah Madinah. Seusai Haji Perpisahan, dalam perjalanan ke Madinah, Nabi (saw) melewati daerah itu pada 18 Dzulhijjah (10Maret 632 M). Di situ beliau menerima wahyu ayat “Wahai Nabi, sampaikan apa yang telah diturunkan kepadamu…dst”.Maka beliau pun berhenti dipersimpangan itu, sebelum para sahabat menyebar pulang ke rumah masing-masing.

Rasul yang suci (saw) hendak membuat sebuah pengumuman penting kepada jamaah haji yang menyertainya. Atas perintah beliau, didirikanlah sebuah mimbar dari dahan-dahan pohon. Sesudah solat dhuhur, dari atas mimbar itu Nabi (saw) berpidato secara resmi dihadapan massa paling besar selama hidupnya, sekitar tiga bulan sebelum wafatnya.

Ringkasnya, dalam upacara itu Nabi (saw) –sambilmengangkat lengan Imam Ali (a.s.)– bertanya kepada para sahabatnya apakah mereka menganggap keutamaan otoritas kepemimpinan Nabi (mawla) di atas diri mereka. Kerumunan massa pun berseru lantang dalam satu suara: “Benar (kami mengakui), wahai Rasulullah.”

Rasulullah (saw) kemudian menyatakan: “Barang siapa menganggap aku sebagai pemimpinnya (mawla), maka baginya Ali adalah juga pemimpinnya
(mawla). Ya Allah, dukunglah siapa yang mendukung dia (Ali), dan musuhilah siapa yang menjadi musuhnya.”

Segera sesudah Nabi(saw) menyelesaikan khutbahnya, turunlah ayat Qur’an ini: Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu dan Aku lengkapkan nikmat-Ku bagimu, dan Aku telah rela bahwa Islam menjadi agamamu. (Qs.5:3)

Seusai pidato, Nabi Muhammad saw minta semua orang berbaiat kepada Ali (as) dan memberinya ucapan selamat. Diantaranya adalah Umar bin
Khattab yang mengatakan:
“Selamat wahai putra Abi Talib! Hari ini engkau menjadi pemimpin kaum mukminin laki-laki dan wanita.”

Mendengar kejadian di Ghadir Khumm ini, seorang Arab menghadap Nabi saw dan berkata:”Engkau suruh kami untuk bersaksi bahwa tidak tidak ada Tuhan kecuali Allah dan bahwa engkau adalah utusan Allah….” dst, seperti tertulis di atas. Walhasil, ringkasnya, sang lelaki tadi menantang, dan berkata, “Ya Allah! Jika apa yang dikatakan Muhammad itu benar, maka jatuhkanlah batu dari langit dan biarlah kami mendapat siksa yang pedih.” Selang beberapa saat Allah menimpakan sebuah batu ke kepalanya hingga ia tewas.

Kemudian, turunlah firman-Nya yang termaktub dalam
Surat 70 ayat 1-3 berikut ini: Seorang penanya meminta (bukti) tentang siksa yang bakal terjadi. Bagi orang-orang kafir (yang) tidak seorang pun dapat menolaknya, (yangdatang) dari Allah, Yang memiliki tempat-tempat naik.

Apakah ulama Sunni menganggap kejadian ini autentik?

Banyaknya ulama Sunni yang
menceritakan kejadian ini, baik secara rinci ataupun ringkasannya, sungguh menakjubkan dan mengagumkan! Peristiwa historis ini dikisahkan oleh 110sahabat Nabi (saw), 84 tabi’in, dan kemudian oleh ratusan pakar Dunia Islam, sejak abad pertama hingga abad ke-14 Hijriah (abad 7 hingga abad 20M).

Angka-angka di atas hanya sebagian/kilasan yang direkam ulama Sunni. Dibawah ini sebagian kecil rujukan sumber-sumber periwayatan itu. Banyak di antara ulama (yang meriwayatkanya) tidak saja mengutip
pernyataan Nabi tapi juga
menegaskannya sebagai sahih
(autentik):

*al-Hakim al-Naysaburi, al-Mustadrak `ala al-Sahihayn (Beirut),volume 3, pp.109-110, p.133, p.148, p. 533. Ia menegaskan bahwa hadis ini sahih menurut syarat Bukhari dan Muslim; al-Dhahabi membenarkan
keabsahannya.

*al-Tirmidhi, Sunan(Cairo), vol. 5, p. 633

*Ibn Majah, Sunan,(Cairo, 1952), vol.1,p. 45

*Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari bi Sharh Sahih al-Bukhari, (Beirut,1988), vol. 7, p. 61

*Al-‘Ayni, ‘Umdat al-Qari Sharh Sahih al-Bukhari, vol. 8, p. 584

*Ibn al-‘Athir, Jami` al-‘usul, i, 277, no. 65;

*Al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, vol. 2, p.259 and p.298

*Fakhr al-Din al-Razi, Tafsir al-Kabir,(Beirut, 1981), vol.11, p. 53

*Ibn Kathir, Tafsir Qur’an al-‘Azim, (Beirut), vol. 2, p. 14

*Al-Wahidi, Asbab al-Nuzul, p.164

*Ibn al-‘Athir, Usd al-Ghaba fi Ma’rifat al-Sahaba, (Cairo), vol.3, p. 92

*Ibn Hajar al-‘Asqalani, Tahdhib al-Tahdhib, (Hyderabad, 1325),vol. 7, p. 339

*Ibn Kathir, al-Bidayah wa al-Nihayah, (Cairo, 1932), vol. 7,
p. 340, vol. 5, p. 213

*Al-Tahawi, Mushkil al-Athar,
(Hyderabad, 1915), vol. 2, pp. 308-9

*Nur al-Din al-Halabi al-Shafi’i, al-Sirah al-Halabiyya, vol. 3, p.337

*Al-Zurqani, Sharh al-Mawahib al-Ladunniyya, vol. 7, p.13

Tapi, bukankah kata ‘mawla’ punya arti ‘kawan’?

Meskipun sejumlah besar ulama Sunni dari berbagai zaman
dan dari pelbagai sudut pandang telah memastikan pendapat mereka tentang kejadian
bersejarah itu, mereka menemui kesulitan untuk mengkaitkannya dengan apa yang terjadi sesudah Nabi saw wafat.
Berhubung singkatnya artikel ini, maka hal itu tidak mungkin dibahas secara panjang di sini. Yang penting, harus
ditegaskan di sini bahwa banyak ulama Sunni menetapkan
bahwa Nabi (saw) secara jelas ingin menegaskan bahwa imam Ali (as) sebagai kawan dan penolong kaum Muslimin!

Banyak hal berkaitan dengan peristiwa itu menunjukkan bahwa kejadian di Ghadir Khum itu punya makna yang sangat penting. Turunnya beberapa wahyu Al-Qur’an, banyaknya
massa yang berkumpul saat itu, pidato terakhir Nabi(saw), penegasan para sahabat yang menerima otoritas Nabi (saw), ucapan selamat Umar (kepada Ali), dan faktor-faktor lain (yang sulit dirinci dalam tulisan singkat ini), semuanya menunjukkan bahwa kejadian itu mengarah kepada penegasan penerus Nabi yang bergelar Al-Amien itu. Jelas bahwa kata mawla(pemimpin) yang digunakan itu adalah untuk menunjukkan otoritas yang absolut sesudah Nabi (saw) termasuk, tapi tidak terbatas, pada kekuasaan temporer(sementara).

Kesimpulan

Jika masih ada keraguan pentingnya arti historis pernyataan Nabi (saw) itu, dan karena adanya usaha sementara orang yang ingin menutup-nutupinya, baiklah kalimat di bawah ini untuk menyimpulkannya:

Dalam masa kekhalifahannya,
beberapa dasawarsa sesudah kejadian itu, Imam Ali (as) berkata kepada Anas bin Malik, salah seorang sahabat Nabi yang hadir di Ghadir Khum: “Mengapa engkau tidak menjelaskan bahwa engkau telah mendengar pesan Rasulullah pada saat di Ghadir itu?”

Anas menjawab,”Wahai Amir al-Mukminin, saya ini sudah tua dan tidak mengingatnya lagi.”

Mendengar itu, imam Ali (as) berkata: “Jika Engkau sengaja
menyembunyikan kebenaran ini, semoga Allah memberimu sebuah tanda putih yang tak
bisa ditutupi surbanmu.” Maka belum lagi Anas bangun dari duduknya, muncullah bercak putih besar diwajahnya.

silakan merujuk pada:

*Ibn Qutaybah al-Dinawari, Kitab al-Ma’arif, (Cairo, 1353 AH), p. 251

*Ahmad bin Hanbal,al-Musnad, vol. 1, p.119

*Abu Nu`aym al-‘Isfahani, Hilyat al-Awliya’, (Beirut, 1988), vol. 5, p. 27

*Nur al-Din al-Halabi al-Shafi’i, al-Sirah al-Halabiyya, vol.3, p.336

*Al-Muttaqi al-Hindi,Kanz al-‘Ummal,(Halab, 1969-84), vol.
13, p.131

[deleteisrael]

Sumber: http://bl0gg3rbl4st.heck.in/seorang-arab-menantang-nabi-di-ghadir-kh.xhtml

terkait:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s