Spektakuler: Tsunami Pesta Demokrasi Rakyat Suriah di Lebanon

antusiasme_rakiat_suriah.jpg“Reaksi mereka mengingatkan pada apa yang mereka katakan tiga tahun silam, yaitu bahwa pemerintah Damaskus akan tergilas habis oleh pemberontakan hanya dalam hitungan hari dengan alasan bahwa pemerintahan Assad sama sekali tidak berbasis kerakyatan”

“Badai”, “air bah” dan “tsunami”. Inilah antara lain kosakata yang tiba-tiba menghiasai judul berita utama di berbagai media massa Lebanon Kamis (29/5) tentang sebuah peristiwa besar. Peristiwa itu bukan bencana alam, melainkan sebuah fenomena politik yang spektakuler, dahsyat, mencengangkan sertai diakui aneh dan di luar dugaan, yaitu membludak dan membanjirnya partipasi warga negara Suriah di Lebanon yang umumnya adalah pengungsi dalam pemungutan suara pemilu presiden (pilpres) Rabu hingga Kamis (28-29/5), masa di mana warga negara Suriah di luar negeri dipersilakan memilih siapa yang akan memimpin Suriah untuk periode mendatang.

Menariknya lagi, media Lebanon juga menyebutkan “keterkejutan Kelompok 14 Maret” yang merupakan lawan politik Hizbullah di Lebanon. Kelompok ini terkejut karena selama ini memusuhi pemerintahan presiden Suriah Bashar al-Assad serta menentang keterlibatan milisi Hizbullah dalam Perang Suriah untuk membantu pasukan pemerintah Suriah melawan para ekstrimis dan pemberontak.

Kantor berita Suriah, SANA, melaporkan bahwa membludaknya warga dan pengsungsi Suriah di tempat pemungutan suara di Kedutaan Besar (kedubes) Suriah di Beirut membuat Komisi Pemilihan Umum Suriah memperpanjang masa pemungutan suara di sana hingga Kamis. SANA juga menyebutkan bahwa jumlah peserta pemilu di luar dugaan siapapun sehingga mengguncang opini publik.

Kelompok 14 Maret selama ini beranggapan bahwa para pengungsi Suriah menentang pemerintahan Assad dan akan memboikot pemilu. Karena itu, mereka terkejut menyaksikan para pengungsi itu ternyata berbondong-bondong mendatangi tempat-tempat pemungutan suara dalam pilpres Suriah. Tak hanya terkejut dan kecele, mereka bahkan gusar dan berharap para pengungsi itu dapat diusir dari Lebanon.

Keterkejutan dan kegusaraan Kelompok 14 Maret terlihat bukan hanya dari pernyataan sekretaris dan para eksponen politiknya yang secara terbuka menghendaki pengusiran para pengungsi Suriah, melainkan juga dari aksi yang terjadi di kawasan Bab al-Tabanneh, Tripoli, yang selama ini dikenal sebagai “ibu kota Lebanon utara”.

Di sana tiba-tiba ada sekelompok massa turun ke jalan meneriakkan slogan dan statemen-statemen Kelompok 14 Maret anti Suriah. Secara politik Lebanon memang terbelah menjadi selatan yang pro Assad dan utara yang anti Assad.

Meski terkejut menyaksikan realitas adanya tsunami, Kelompok 14 Maret rupanya tidak lantas pasrah menerima kenyataan. Media massa mereka, khususnya koran al-Mustaqbal milik partai al-Mustaqbal pimpinan Saad al-Hariri yang merupakan partai yang dominan dalam kelompok tersebut mencoba meremehkan fenomena politik itu dengan menyatakan bahwa rakyat Suriah yang berbondong-bondong membanjiri kotak-kotak pemungutan suara itu sudah dikondisikan secara sistematis. Tak hanya itu al-Mustaqbal juga menyatakan tsunami itu hanyalah 5 persen dari total pengungsi.

Koran ini dalam tajuk rencananya mengecam pemerintah Suriah dan Hizbullah serta memperkirakan bahwa gerakan seperti itu juga masih akan terulang lagi.

Sebagai pelengkap untuk menentramkan kubu oposisi Suriah, al-Mustaqbal di halaman pertamanya mencantumkan judul “Janji-janji Amerika Serikat (AS) kepada Oposisi Suriah”.

Anehnya, meski kubu anti Assad menganggap tsunami itu hanya 5 persen pengungsi Suriah, Menteri Tenaga Kerja Lebanon Sejaan Azzi yang berasal dari Partai Kataeb yang juga berkiprah di Kelompok 14 Maret malah menyatakan akan mengupayakan pengusiran para pengungsi Suriah. Dia bahkan mengatakan bahwa pengusiran masih belum cukup untuk menindak para pengungsi. Menurut dia, lembaga-lembagabantuan juga harus menghentikan bantuannya kepada mereka.

Dia juga mencibir negaranya sendiri, “Sayang sekali, negara ini bisa mengupayakan secara sistematis pemilu presiden negara lain, tapi untuk menyelenggarakan pemilu parlemen dan pemilihan presidennya sendiri ternyata tidak sanggup.”

Namun secara umum media di Lebanon, menurut laporan IRNA, menganggap tsunami itu sebagai fenomena yang mengejutkan Kelompok 14 Maret sehingga mengundang banyak tanggapan, reaksi, analisis dan kontroversi, termasuk dari jaringan-jaringan televisi berbasis satelit.

Namun, sebagaimana dapat diduga, karena Assad yang anti AS dan Israel itu memiliki banyak musuh maka tentu ada saja pihak-pihak yang lebih mengedepankan apriori dan memandang tsunami itu dengan sebelah mata. Reaksi mereka mengingatkan pada apa yang mereka katakan tiga tahun silam, yaitu bahwa pemerintah Damaskus akan tergilas habis oleh pemberontakan hanya dalam hitungan hari dengan alasan bahwa pemerintahan Assad sama sekali tidak berbasis kerakyatan.

Tidak ada data akurat mengenai jumlah warga negara Suriah yang berhak pilih di Lebanon. Namun diperkirakan bahwa suara yang sudah tertampung di kotak-kotak suara yang di pasang di Kedubes Suriah di Beirut pada hari Rabu mencapai jumlah minimal 100,000 suara.

Tak ayal, hari itu jalanan di sekitar gedung Kedubes menjadi lautan manusia yang rela berdesakan dan antri demi menyukseskan pemilu. Beberapa media Lebanon melaporkan bahwa sejumlah peserta pemilu dan bahkan beberapa petugas keamanan dan polisi Lebanon cidera dan pingsan akibat berdesakan dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit.

Jalanan di sekitar gedung kedubes praktis macet dan kacau sehingga pihak kepolisian mendapat protes dari masyarakat karena dianggap lalai dan tidak antisipatif. Pihak Kedubes Suriah sendiri juga tidak habis berpikir menyaksikan pemandangan ini.

Warga negara Suriah pada hari itu datang berbondong-bondong ke Beirut dari berbagai kota di kawasan timur, utara dan selatan Lebanon. Karena kebanyakan berasal dari luar kota, Kedubes Suriah tak menduga peserta pemilu akan tumpah ruah sebanyak itu. Mereka datang dengan mengendarai mobil pribadi dan kendaraan umum, dan bahkan sebagian ada yang sempat jauh berjalan kaki di Beirut menuju gedung tersebut.

Sejak pukul 05.00 waktu setempat mereka sudah membentuk antrian sepanjang beberapa kilometer. Tempat pemungutan suara dibuka pukul 07.00 dan berlanjut hingga tengah malam, padahal seharusnya ditutup pada pukul 19.00.

Hingga tengah malam itupun ternyata masih melimpah peserta yang belum sempat mencoblos. Karena itu, setelah berkordinasi dengan otoritas keamanan Lebanon, Kedubes dan Komisi Pemilihan Umum Suriah lantas memperpanjang masa pemungutan suara hingga Kamis.

Dubes Suriah untuk Lebanon Ali Abdulkarim Ali menyatakan berterima kasih kepada warga negara Suriah yang telah memberikan suara, demikian pula kepada tentara dan polisi Lebanon yang telah membantu mengendalikan massa sebanyak itu dan memberikan rasa aman.

Dia mengaku tidak menyangka peserta pemilu akan membludak sebanyak itu. Dia juga menyatakan bahwa warga yang tidak berhasil memberikan suara selama Rabu dan Kamis itu masih dapat memberikan suaranya di beberapa pintu perbatasan Lebanon-Suriah pada tanggal 3 Juni mendatang.

Dilaporkan bahwa Rabu malam banyak warga negara Suriah yang baru datang dari kota-kota jauh, termasuk di kawasan Beka dan Tripoli. Mereka bermalam di depan gedung Kedubes Suriah dan besoknya segera membentuk antrian menuju kotak suara.

Harian al-Safir menuliskan, “Puluhan ribu warga Suriah di Lebanon bergerak sekaligus dan mendemonstrasikan eksistensinya dalam perimbangan dan peta politik. Gerakan ini merupakan isyarat jelas bahwa keberadaan mereka dalam jumlah besar di Lebanon tidak sebatas ada dalam data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melainkan juga menjadi satu pesan politik yang tegas bahwa mereka tetap dapat berperan aktif jika sewaktu-waktu diperlukan.”

Al-Safir menambahkan bahwa dengan kacamata politik apapun orang memandang fenomena spektakuler itu hasilnya tetap akan satu, yaitu bahwa pemerintah Suriah adalah pemerintah yang tangguh, meskipun seandainya asumsi dan tuduhan sebagian orang benar bahwa gerakan itu sudah dikendalikan secara sistematis dan bahwa warganegara Suriah itu mendapat tekanan.

Menurut al-Safir, kebanyakan orang pasti menampik asumsi itu. Banyak orang percaya bahwa fenomena itu merupakan gerakan kolosal untuk membuktikan simpati dan kesetiaan rakyat Suriah kepada pemerintah, angkatan bersenjata dan pemimpin mereka. Dengan kata lain, tsunami pesta demokrasi itu telah mengokohkan posisi pemerintah Suriah di depan pemberontak dan oposisi serta semua pihak yang memusuhi pemerintahan Bashar al-Assad. Karena itu, mereka mau tidak mau harus mengubah kalkulasi politiknya selama ini.

Al-Safir juga menyebutkan bahwa gebyar pilpres Suriah di Lebanon telah menyebabkan kecemburuan di tengah publik dan elit politik Lebanon. Betapa tidak, setelah lima hari kursi kepresiden Lebanon kosong, rakyat negara jiran ternyata dapat sedemikian antusias dan berlomba menyukseskan pilpresnya.

Pada kesimpulannya, gelombang tsunami pesta demokrasi Suriah di Lebanon itu merefleksikan prestasi dan kemenangan pemerintah Suriah di medan laga serta kekalahan telak para ekstrimis takfiri yang mendapat dukungan dari Rezim Zionis Israel, negara-negara Barat dan sejumlah negara Timur Tengah, khususnya Arab Saudi, Qatar dan Turki, yang bersekutu dengan AS.[deleteisrael]

Sumber: http://liputanislam.com/berita/fokus/heboh-tsunami-pesta-demokrasi-suriah-di-lebanon/?

terkait:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s