Surat Seorang Pastor, dari Lembah Airmata Gaza

pastors.jpg“Dari lembah air mata, dari Gaza yang tenggelam dalam darah, darah yang telah menahan kebahagiaan di hati satu setengah juta orang.
Saya bawakan kepada Anda kata-kata iman dan harapan. Saya tidak menggunakan kata “cinta”, kata yang telah terpenjara dalam leher kami, bahkan dari tenggorokan umat Kristen”

Kalimat tulus yang dilontarkan Pastor Manuel, sontak saja membangkitkan rasa haru, sekaligus menepis anggapan bahwa perang yang terjadi di Palestina semata-mata karena perbedaan keyakinan. Di Gaza, seorang Pastor mempersilahkan saudaranya yang Muslim (yang masjidnya di hancurkan Tentara Zionis Israel), untuk mengumandangkan adzan dari gerejanya.

The Palestine Chronicle melaporkan, salah satu korespondennya pernah bersua dengan Pastor Manuel, yang lantas mengajaknya ke markas Fatah. Kemudian, ia diajak untuk menemui Ismail Haniyeh, pemimpin Hamas, yang menerima mereka dengan sangat baik. Artinya, ia merupakan tokoh lintas agama yang disegani dan memiliki kedekatan dengan front perlawanan.

Pada tahun 2009, ia pernah mengirimkan surat kepada seluruh dunia, dengan maksud agar seluruh dunia mendoakan, dan memahami apa yang sebenarnya terjadi di Gaza –karena menurutnya, informasi yang disampaikan oleh radio maupun televisi, tidak sepenuhnya benar.

Berikut ini adalah isi suratnya:

Kepada rakyat suci- tercinta Palestina, dan kepada seluruh dunia, dari sebuah Gereja Allah di Jalur Gaza. Kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, kasih Allah Bapa kita dan persekutuan Roh Kudus menyertai Anda sekalian.

Dari lembah air mata, dari Gaza yang tenggelam dalam darah, darah yang telah menahan kebahagiaan di hati satu setengah juta orang.
Saya bawakan kepada Anda kata-kata iman dan harapan. Saya tidak menggunakan kata “cinta”, kata yang telah terpenjara dalam leher kami, bahkan dari tenggorokan umat Kristen. Para imam menyebut “harapan” agar kasih sayang Tuhan memberkati kami, sehingga Dia akan tetap bersemayam di Gaza. Dengan cara inilah cahaya Kekristenan akan menyala di gereja-gereja semula. Semoga belas kasih Kristus meningkatkan cinta kita kepada Allah, mesipun saat ini kita berada dalam kondisi kritis.

Dengan segenap hati, sebagai seorang imam Anda, saya meminta Anda untuk berdoa bagi jiwa putri kami, putri kami tercinta dari sekolah Keluarga Kudus, anak Kristen pertama yang meninggal dalam perang ini, yaitu Cristina Wadi al-Turk.

Dia meninggal pada hari Sabtu pagi, 2 Januari 2009, lantaran ketakutan dan kedinginan. Jendela-jendela rumahnya dibiarkan terbuka untuk melindungi anak-anak dari pengaruh ledakan bom pada kaca. Roket-roket melewati rumahnya, yang sukses membuat segalanya bergetar dan gemetar. Dia tidak mampu menahan semua itu, dan ia kembali kepada Sang Pencipta, untuk meminta sebuah rumah baru – sebuah tempat yang tidak ada air mata, tidak ada tangisan, tidak ada roket, melainkan hanya sukacita dan kebahagiaan.

Saudaraku yang dikasihi Kristus, apa yang Anda lihat di layar TV Anda, dan apa yang Anda dengar, bukan hal itu yang sesungguhnya terjadi di Gaza. Tidak ada televisi ataupun radio, yang mampu untuk menceritakan sama persis, kejadiaan luar biasa dahsyat yang terjadi di tanah air kami saat ini.
Pengepungan Gaza adalah ibarat badai yang membesar, sedikit demi sedikit telah mencapai titik – yaitu kejahatan kemanusiaan. Orang-orang di Gaza menunjukkan kasus tragis yang menimpa mereka, agar setiap orang baik yang ada, mampu menilai [apa yang sesungguhnya terjadi.] Namun kelak, Tuhan yang akan menilai/ menghakimi.

Anak-anak Gaza, dengan orang tua mereka, dipaksa untuk tidur di lorong-lorong rumah mereka – namun,hanya jikamereka masih memiliki rumah. Atau, kadang di kamar mandi, untuk melindungi diri mereka sendiri, yang gemetar ketakutan lantaran gemuruh dan guncangan dari pesawat tempur F-16 yang mengerikan.
Memang benar bahwa sampai saat ini target dari pesawat, adalah gedung-gedung pemerintah dan markas Hamas. Tetapi, semua bangunan ini terletak di antara rumah-rumah penduduk yang hanya dipisahkan oleh jarak yang tidak lebih dari 6 meter (jarak yang diizinkan secara hukum mengenai jarak antar bangunan). Karenanya, rumah-rumah penduduk pun mengalami kerusakan parah dan banyak anak-anak yang gugur.

Lalu, anak-anak kami juga hidup dalam kepanikan dan teror abadi, dan ini membuat mereka jatuh sakit. Kurang makan, gizi buruk, miskin, dan dingin.

Tragedi lainnya, bahwa rumah sakit tengah mencapai kondisi kritis. Rumah sakit ini sebelum perang, memang tidak memiliki fasilitas darurat. Dan sekarang mereka sedang kewalahan untuk menangani ribuan orang yang terluka dan sakit. Sehingga saat ini, operasi kepada pasien harus dilakukan di lorong rumah sakit. Mereka takut, sedih, dan histeris.
Banyak orang-orang yang terluka, dikirim melalui perbatasan Rafah menuju Mesir, tetapi mereka yang berhasil melewati perbatasan tidak pernah kembali. Kebanyakan mereka, telah kehilangan nyawa di dalam perjalanan.

Saya jelaskan secara singkat dalam surat ini, untuk meminta bantuan dari Anda, dan juga dari Allah. Orang-orang kami di Gaza menjalani hidupnya seperti binatang liar, bukan seperti layaknya manusia. Mereka makan, tetapi bukan makanan yang bergizi. Mereka menangis, tetapi mereka sudah tidak memiliki air mata. Hari ini tidak ada air, tidak ada listrik. Yanga ada hanya rasa takut, dan rasa panik.

Kemarin, ada sebuah toko roti yang menolak untuk memberikan roti kepada saya. Alasannya, karena dia tidak mau memberikan roti yang terbuat dari tepung yang tidak sehat – yang menurutnya – hal itu merendahkan saya sebagai seorang imam. Roti yang sehat, telah habis. Namun ia menawarkan kepada saya tepung ‘layak’ yang belum diolah, yang masih ia miliki. Karenanya, saya bersumpah tidak akan makan roti selama perang ini berlangsung.

Kami meminta Anda untuk memanjaatkan doa-doa kepada Allah. Kami juga meminta, agar tiada Misa atau ibadah yang dirayakan, tanpa membisiki Allah atas tragedi yang terjadi di Jalur Gaza. Sedangkan saya, akan terus mengajak anak-anak berdoa, semata-mata untuk mendorong harapan yang terletak di dalam hati mereka.

Kami berdoa bersama setiap jam, seperti ini, “Tuhan dari Perdamaian, yang memberi kami kedamaian. Oh Tuhan Yang Maha Damai, yang memberikan kedamaian bagi negara kami, kasihanilah, kasihanilah hamba-hamba-Mu, dan janganlah marah kepada kami.”

Saya meminta Anda sekalian untuk bangkit dan berdoa bersama kami. Doa-doa Anda, bersatu dengan doa kami, akan mampu menggeser dunia. Juga untuk mengajarkan kepada kami bahwa keajaiban cinta masih terpenjara di sepanjang jalan, dan belum mencapai saudara-saudara Anda di Gaza. Ini bukan hanya tentang kasih Kristus dan Gereja-Nya. Sebab kasih-Nya, dan perbedaan politik, sosial, perang, maupun sebab lainnya, bagi pihak Gereja bukanlah halangan.

Ketika kami menerima bantaun dari Anda, kami merasa bahwa kami di sini tidak dilupakan oleh seluruh Gereja Kristus, Gereja Kudus, Katolik. Dan saudara-saudara Muslim kami yang tinggal di antara kami adalah bagian dari keluarga kami, takdir kami, yang dengannya kami berbagi segala sesuatu. Kami orang-orang Palestina, kami senantiasa bersama-sama.

Namun di tengah semua ini, rakyat Gaza menolak perang sebagai solusi untuk perdamaian, dan yakin bahwa satu-satunya jalan menuju perdamaian adalah kedamaian itu sendiri.

Di Gaza kami bersabar, namun dari mata kami Anda kan melihat bahwa; bagi kami tidak ada pilihan, selain penjajahan atau kematian.

Kami ingin hidup untuk menyembah Tuhan di Palestina dan menjadi saksi Kristus. Kami ingin hidup untuk Palestina, dan bukan untuk mati. Tapi jika suatu hari kematian menghampiri, kami akan mati dalam bahagia dengan keberanian dan kekuatan.

Kami mohon, agar ketika Anda memanjatkan doa-doa Anda kepada Allah — Anda meminta Tuhan kita Yesus Kristus memberi kita kedamaian sejati, sehingga serigala dan anak domba bisa hidup bersama, sapi dapat merumput di samping singa, dan anak-anak bisa meletakkan tangannya di depan mulut ular tanpa digigit.

Semoga damai Kristus, bahwa perdamaian yang menjadikan kita satu tubuh, selalu bersama dan melindungi Anda. Amin.

Kakakmu,
Pastor Manuel Musallam,
Imam Gereja Latin di Gaza.

Catatan: surat ini disampaikan saat Israel menggelar operasi “Menuang Timah” di Jalur Gaza pada tahun 2009.[Deleteisrael]

Sumber: http://liputanislam.com/tabayun/surat-seorang-pastor-dari-lembah-airmata-gaza/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s