Perjalanan Wartawan Harian Republika ke Iran bagian 1

ikhwanul_kiram_mashuri.jpg“Karena itu bisa dipahami bila Iran hingga sekarang terus menyimpan rasa ketidak-sukaan pada AS dan Israel. Ketidak-sukaan, atau tepatnya kebencian, itu terus mereka pelihara dengan berbagai cara. Antara lain dengan menuliskan ‘Down with USA and Israel’ dan ‘USA and Israel Go to Hell’ di berbagai sudut kota Teheran”

Perjalanan Oleh : Ikhwanul Kiram Mashuri

Kata orang, pakaian menunjukkan siapa Anda. Bila, misalnya, dalam suatu resepsi Anda tampil mengenakan setelan jas dan pantalon warna gelap yang dipadu dengan kemeja yang sesuai, maka Anda akan tampak modis dan keren. Boleh jadi Anda pun bertambah pede.

Apalagi bila tampilan Anda masih dilengkapi dengan dasi pada leher kemeja.
Ya, setelan jas, pantalon, kemeja, dan dasi memang sudah lama dijadikan pakaian formal oleh banyak negara. Bukan hanya di Barat, tapi juga negara-negara di Asia dan Afrika. Jas dan dasi telah diidentikkan dengan kaum mapan: diplomat, eksekutif, bankir, pengusaha, dan pejabat. Di banyak negara, terutama yang mengalami empat musim, jas dan dasi bahkan sudah menjadi pakaian kerja sehari-hari warga.

Namun, berbeda dengan di Iran. Mereka mempunyai cara berpakaian sendiri. Jas dan kemeja tidak lagi dipadukan dengan dasi. Beberapa kali bertemu orang-orang Kedutaan Iran di Jakarta saya tidak permah melihat mereka mengenakan dasi, baik ketika berjas maupun hanya berkemeja saja. Juga ketika saya beberapa hari berkunjung ke Iran pekan ini, saya tidak pernah menjumpai para pria Iran mengenakan dasi.

Bahkan saya juga tidak pernah menemukan toko-toko pakaian yang menjual pengikat leher kemeja itu.
Agak penasaran saya pun bertanya kepada Sayyid Mohammad Hosein Hashemi, Deputi Presiden Iran untuk urusan budaya. Ada dua alasan, menurutnya, mengapa kaum pria Iran ogah mengenakan dasi.

Pertama, dasi yang dikenakan dengan cara mengikat leher/krah kemeja dianggap sebagai lambang keterkungkungan dan penjajahan.

Kedua, orang yang mengenakan dasi dikatakan Hashemi sebagai menyerupai orang-orang Barat. Ia pun menyebut sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Dawud, ‘‘Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.’’ Yang dimaksud ‘suatu kaum’ dalam hadis tadi, dalam pandangan Hashemi, adalah orang-orang Barat yang dianggapnya sebagai sering memusuhi Islam dan umat Islam. Dasi adalah asesoris pakaian yang dikenakan sehari-hari oleh orang-orang Barat.

Atas dua alasan tadi, para kaum pria Iran pun tidak lagi mengenakan dasi sejak kemenangan Revolusi Islam pada 36 tahun lalu.

Revolusi Islam Iran adalah perlawanan rakyat yang dipimpin oleh Imam Khomeini untuk menjatuhkan penguasa monarkhi Iran, Shah Reza Pahlavi, yang telah berkuasa selama 37 tahun.

Ketika berkuasa Shah Reza Pahlevi menyebut dirinya sebagai ‘Yang Mulia Baginda’ dan bergelar sebagai Shahanshah alias Raja Segala Raja dan Aryamehr yang berarti pemimpin Bangsa Arya. Ia menerapkan kebijakan Westernisasi yang tidak lain menjadikan dirinya sebagai boneka kepentingan Barat.

Menjelang kejatuhan Shah, terdapat ratusan ribu orang Amerika dan Yahudi di Iran. Westernisasi ini pada gilirannya justeru mengecilkan dan juga mengucilkan peran para pemimpin agama dalam kehidupan rakyat Iran. Pada 11 Februai 1979, Revolusi Islam Iran berhasil menggulingkan kekuasaan Shah Reza Pahlevi.

Sejak kemenangan Revolusi Islam, Iran yang sebelumnya sebagai monarkhi pun berubah jadi Republik Islam Iran. Lagu kebangsaan yang sebelumnya memuja-muji monarkhi (Ey Iran) diganti dengan Sorood-e Melli-e Jomhoori-e Eslami yang bersemangatkan perjuangan melawan kezaliman.

Selanjutnya, para kaum pria di seluruh negeri Iran tidak lagi mengenakan dasi.
Dengan kata lain, dasi di Iran bukan soal suka atau tidak suka, keren atau tidak keren, dan modis atau tak modis. Namun, ia sudah menjadi semacam ‘ideologi’. Ia merupakan simbol kebebasan dan segaligus perlawanan. Kata Deputi Presiden Iran, Hashemi, kebebasan bermakna Iran bebas menentukan nasibnya sendiri. Iran juga akan terus melawan pihak mana pun yang ingin mengganggu kepentingan nasionalnya.

Yang dimaksud Hashemi dengan ‘bebas menentukan nasibnya sendiri‘ antara lain tentu terkait dengan program nuklir Iran. Meskipun, menurutnya, program nuklir itu hanya untuk mencukupi tenaga listrik negaranya, namun Barat tetap saja menolak.

Sementara itu, sebut Hashemi, Israel yang jelas-jelas mempunyai senjata nuklir dibiarkan. ‘‘Ini yang namanya ketidak-adilan. Kami harus melawan,’‘ ujarnya. ‘‘Kami tidak akan mundur sejengkal pun dalam perundingan nuklir dengan Barat yang sekarang sedang berlangsung. Kami tidak akan mengorbankan kepentingan nasional kami.’’

Atas sikap yang dianggap keras kepala itu, Iran pun harus menanggung akibatnya. Bertahun-tahun sudah negara berpenduduk 70 juta jiwa itu dikenakan sanksi ekonomi oleh PBB (baca: Barat), sebelum perundingan nuklir akhirnya dimulai. Namun, Iran tetap tidak mau takluk. Embargo ekonomi itu disikapi dengan positif. Yakni dengan bekerja keras memandirikan ekonomi dalam negeri.

Hasilnya, Iran bisa mandiri dan berdikari. Ketika negara kita masih sibuk dengan mobil nasional, negara Ayatullah Imam Khamenei sudah berhasil memproduksi mobil nasional dengan berbagai merek seperti Saipa, Runna, Samand, Pride, dan Tondar. Bahkan Iran juga telah mengekspor mobil nasionalnya ke negara-negara yang menjadi sukutunya di Eropa Timur, Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Dan, meskipun tidak banyak mobil-mobil mewah berseliwerang di jalan-jalan raya, namun transportasi publik sangat mencukupi.

Pasar tradisional, toko-toko, dan mal pun selalu ramai oleh pembeli. Seluruh kantor dan rumah-rumah warga di seantero negeri, kata Duta Besar Indonesia untuk Iran, Dian Wirengjurit, telah dialiri dengan gas yang memungkinkan masyarakat tidak menggigil di musim dingin dan tak kegerahan di musim panas.

Selama berada di Iran beberapa hari di awal Maret ini saya pun sulit menjumpai para pengemis dan peminta-minta di jalan-jalan dan tempat umum lainnya. Saya juga susah membedakan kelompok warga miskin dan kaya. Para sopir bus dan angkutan kota saja memakai setelen jas senecis para eksekutif di perkantoran.

Namun, sekali lagi, semuanya tanpa dasi.
Bagi Iran, penolakan terhadap dasi tampaknya akan terus dipelihara selama Barat, terutama AS dan Israel, terus memusuhi kepentingan Iran. Menurut Debuty Minister for Press and Information Iran Hossein Entezami dan Deputi Presiden untuk urusan Budaya Hashemi, sejak kemenangan Revolusi Islam, AS dan Israel akan terus menjadi musuh utama bangsa mereka. Entezami dan Hashemi menyebutkan, selain masalah nuklir, kedua negara itu juga merupakan biang kerok persoalan di dunia Islam.

ISIS (Islamic State of Iraq and Syria), misalnya, mereka katakan sebagai konspirasi (baca: ciptaan) AS dan Israel. Tujuannya, untuk mengacak-acak dunia Islam. Ketidak stabilan dunia Islam pada gilirannya akan mempermudah bagi pihak Barat, khususnya AS, untuk tetap menguasai potensi ekonomi kawasan Timur Tengah. Sementara bagi Israel, kekacauan di berbagai wilayah di Timur Tengah akan semakin mengurangi ancaman pada keamanan mereka.

Karena itu bisa dipahami bila Iran hingga sekarang terus menyimpan rasa ketidak-sukaan pada AS dan Israel. Ketidak-sukaan, atau tepatnya kebencian, itu terus mereka pelihara dengan berbagai cara. Antara lain dengan menuliskan ‘Down with USA and Israel’ dan ‘USA and Israel Go to Hell’ di berbagai sudut kota Teheran. Juga dalam pidato-pidato para pejabat Iran.

Dan, jangan lupa pula bahwa kaum pria Iran ogah memakai dasi adalah sebagai bentuk perlawanan mereka kepada AS dan Israel itu.[Deleteisrael]

Sumber: http://m.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/15/03/08/nkwd1t-sudah-36-tahun-orang-iran-ogah-pakai-dasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s