Membongkar Kedustaan Ustad Wahabi Abu Husein At-Thuwailibi atas Kasus Penganiayaan ‘Mantan’ Syiah

.jpg“Soni alias Abu Husein At-Thuwailibi adalah Pendusta, kata Abul Jauzaa AlWahhabi, sesama wahabi yang Bermanhaj Setan Pendusta Khabits. Inilah bukti-kedustaan dan fitnahnya kepada ustad Syiah yg bernama Ismail Amin “

Abu Husein At-Thuwailibi alias Soni [untuk selanjutnya saya singkat AHAT]. Siapa dia? saya pertama kali tahu orang ini dari statusnya yang dishare Facebooker kawakan JONRU [meski kemudian Jonru menghapusnya karena alasan isinya tidak jelas valid tidaknya] tanggal 7 Juli 2015. Postingan Jonru itu saya baca, setelah mendapatkan linknya dari seorang teman yang mengirimnya melalui pesan di inbox saya.
Isi statusnya berisi berita mengenai diculik dan dianiayanya Ali Syaefurrahman [selanjutnya saya singkat AS]. Ini rangkaian isinya:

Status diatas yang juga dimuat oleh PKS Piyungan adalah sumber pertama dari berita mengenai kasus ini yang kemudian, menyebar dimedia sosial dan dimuat disejumlah media anti Syiah. Meski sebenarnya itu adalah kasus kriminal yang merupakan tugas pihak kepolisian untuk mengusut dan menangkap pelaku, namun yang tersebar di medsos adalah ajakan perang untuk membasmi Syiah. Dengan yel-yel yang menyeramkan, Darah dibayar darah, nyawa dibayar nyawa, basmi syiah, bakar, Syiah halal darahnya, bunuh dan lain-lain.(Lihat screenshoot):

Berita yang diliput media wahabi tersebut tidak luput dari sejumlah keganjilan[kontradiksi]. Diantaranya, antara keterangan yang ditulis AHAT dengan yang ditulis media, ada sedikit perbedaan, seperti yang ditulis oleh Islam Pos misalnya.
Dimedia milik wahabi tersebut, AS ditulis, bukan dibuang tapi meloloskan diri.

Disini disebutkan, AS ditolong oleh pengendara motor menuju masjid at Tin, namun oleh keterangan Farid Okbah dari Video yang dipublish di Youtube, AS lari sendiri ke masjid at Tin dalam kondisi lemah, kemudian meminta bantuan.

Keganjilan dari cerita ini, dari semua keterangan yang dihimpun mengenai kondisi AS, disebutkan, dalam keadaan kritis, tidak diberi makan dan minum selama dua hari, dipukul di ulu hati berkali-kali sampai muntah darah, disuntik cairan mematikan sampai keluar darah dari telinga dan mulut, bahkan ada yang menyebutkan tubuhnya penuh luka, meskipun dari fotonya tidak tampak luka sedikitpun.

Dalam kondisi yang digambarkan sedemikian parah dan kritis itu, AS bisa menyikut yang menjaganya kemudian lompat dari mobil dan melarikan diri?. Sekuat itukah fisik AS yang sebelumnya tidak makan dan minum selama dua hari?

Kalau kita mau sedikit jeli dan melakukan analisa, maka semestinya kita mengajukan pertanyaan, mengapa si penculik tidak mengejar AS?.
Disebutkan mobil melambat di wilayah taman mini. Penyebab melambatnya apa? karena kemacetan? kalau macet berarti suasanya ramai. Semestinya ketika berhasil melompat dari mobil, AS berteriak minta tolong, sehingga selain dia bisa diselamatkan dan ditolong, penculiknya juga bisa ditangkap oleh warga. Sehingga kasus ini bisa selesai di hari pertama.
Tapi yang dilakukan AS adalah lari, dan minta tolong diantarkan oleh pengendara motor di depan Tamini Square. Mengapa hanya minta diantar ke masjid at Tin? mengapa tidak sekalian meminta kepada pengendara motor lainnya untuk mengejar mobil sipenculik, minimal mencatat nomor polisinya?. Kalau ditempat itu dalam kondisi sepi, sehingga teriak minta tolongpun tidak ada yang dengar, mengapa si penculik tidak mengejar dan menangkap si AS lagi?. Terlebih lagi dari keterangan Farid Okbah, yang menjaga AS ada 6 orang. Dijaga oleh 6 orang, tapi kemudian dibiarkan lolos?.
Cerita yang tidak logis. Sumbernya hanya dari AS sendiri. Tidak ada saksi mata, dan tidak ada yang diminntai keterangan lain selain AS sendiri. Tidak dari pengendara motor yang menolong AS, tidak juga dari pengurus masjid at Tin, tempat AS terkapar dan minta tolong. Tidak juga dari perawat dan dokter yang memberikan keterangan medis mengenai kondisi AS, dan tidak ada juga keterangan dari pihak kepolisian.
Saya kemudian mencari tahu mengenai si AS. Dari pesan melalui WA, seorang ikhwan menyampaikan informasi mengenai AS yang dikenalinya. AS tiba-tiba menjadi terkenal ketika fotonya tersebar melalui Medsos.
AS dari pesan itu disebut penipu. Bukan dari mahasiswa Qom, bahkan tidak pernah ke Iran. Dia telah melakukan penipuan di komunitas NU dan Syiah. Ini diantara mereka yang memberi kesaksian.

Dari keterangan2 itupun, saya membuat status di Facebook.

Status itupun menyebar secara cepat. Dan sampai ditangan AHAT [mungkin juga Jonru yang kemudian menghapus postingannya mengenai kasus ini, karena tidak mau kembali melakukan hal serupa, menjadi penyebar berita HOAX, sebagaimana dia berkali2 telah tertangkap basah]
Tidak lama. Saya mendapat pesan inbox dari AHAT, yang meminta klarifikasi dari saya. Terlebih lagi dari status terbarunya kala itu, katanya sudah terkumpul 65 juta dari usahanya menggalang dana dari netizen.
Ini lengkapnya, dialog kami di inbox Fesbuk saya.





Sebagian dari percakapan itu saya SS, dan posting di Facebook.

Dan seketika menjadi heboh. Sebagian menyebut SS itu bikinan saya sendiri, ada yang menyebut itu dialog dari dua akun kloningan, ada yang menyebut akun AHAT lagi di hack. Terlebih lagi, AHAT tidak juga menghapus postingannya yang kontroversial itu, meskipun dia sudah minta maaf. Sebagian besar memilih percaya dengan postingan saya itu, dan membantu menetralisir keadaan dengan menshare info tandingan.
Oleh sejumlah teman, saya diminta menanyakan ke AHAT mengapa tidak juga menghapus postingannya. Sayapun kemudian menanyakannya, keesokan harinya.
Ini dialog saya.


AHAT mengaku, bukan dia yang menulis pernyataan maaf itu. Dia kemudian memosting pernyataan klarifikasi di akunnya, dan berbalik memfitnah, bahwa saya berdusta besar, dan tidak layak dipercaya, karena saya orang kafir, sementara dia ataupun AS muslim, sehingga layak untuk dipercaya. Klarifikasinya itu juga diposting oleh JONRU. Dengan adanya klarifikasi yang ditelan mentah-mentah itu saya pun di bully, difitnah dan dilecehkan dengan kalimat-kalimat yang sangat kasar.

AHAT dalam klarifikasi ngelesnya, mengajukan dua opsi, obrolan itu bikinan, atau akunnya kena hack.

Saya memberikan bantahan dari alasannya itu.

Ini sejumlah obrolah yang membingungkan dari AHAT mengenai akunnya yang katanya pernah dihack sampai hampir 40 kali.
Mengaku FPnya bukan dia yang bikin, tapi dia yang menjadi admin dan mengendalikannya.

Mengaku akunnya diblokir, tapi masih bisa komentar dan memposting status.

Berharap FPnya bisa tetap bertahan meski akunnya di hack.

Tampak dari komentar2 dan pernyataan2 AHAT, dia itu gaptek. Tapi sayangnya, dia menyangka semua orang gaptek seperti dia. Tapi herannya, pengikutnya menerima saja yang dikatakannya. Akun saya pernah dihack, dan tidak mudah untuk mengambil alih kembali. Sementara AHAT mengaku, akunnya dihack hampir sampai 40 kali, dan ia sedemikian mudahnya menguasai kembali akunnya.
Akun AHAT sempat menghilang, yang diakuinya karena diblokir Facebook, yang dengan sepihak dia menuduh Syiah sebagai pelakunya. Padahal ‘musuh’nya bukan hanya Syiah. Dia pernah bermasalah dengan sejumlah orang, termasuk dengan tokoh NU. Tapi kebenciannya terhadap Syiah yang mendarah daging membuatnya tidak lagi bisa berbuat adil. Segala sesuatu yang tidak mengenakkan yang menimpanya, semua ditimpakan kepada Syiah sebagai penyebabnya.

AHAT bukan hanya mudah berkata kasar, temperamental tapi juga main pukul.

Disaat akun AHAT tidak aktif. Tiba-tiba muncul SS ini.

Ismail Amin dalam dialog diatas, bukan akun pribadi saya. Dan saya punya alibi untuk itu, pertama, gaya penulisan saya tidak seperti itu. Kedua, saya menyebut Jalaluddin Rahmat, dengan Ustad Jalal, bukan Kang Jalal. Penyebutan kang Jalal itu untuk komunitas diluar Syiah. Ketiga, SS itu cacat. Sebab tidak sekalian memuat waktu percakapan itu berlangsung sehingga bisa diklarifikasi.
Tidak lama kemudian, melalui investigasi seorang teman. Ditemukan akun baru yang bernama persis dengan akun AHAT yang berteman dengan akun yang bernama Ismail Amin. Tipu daya macam apa ini?

Tentu saya tidak menjatuhkan tuduhan bahwa pelakunya si AHAT, sebab saya tidak punya bukti. Tapi setidaknya pengikutnya. Karena dialog fiktif ini merugikan saya. Saya dibully dan difitnah dibanyak obrolan sampai disebut penyebar fitnah.

Jika mengikuti pendapat Jonru, dengan cara barbar yang ditujukan kepada saya, dengan melecehkan saya secara pribadi, menyebut bajingan dan kafir, jadi siapa sebenarnya yang berada pada pihak yang bersalah? saya atau AHAT?. Tidak ada upaya sama sekali dari saya untuk memblokir atau membalas umpatan si AHAT dan pengikut2nya itu atas saya. JONRU menulis, “Dan orang yang melakukan cara bar-bar untuk menyerang lawannya, biasanya adalah PIHAK YANG BERSALAH.”

AHAT justru mengaku sendiri dalam klarifikasinya bahwa dia stress dan kejadian ini menguras energi postifnya [sampai yang tersisa hanya energi jahat?]. Kalau tidak salah, mengapa harus stress?. Apa yang disembunyikan? kalau tidak salah, mengapa sampai menyerang pribadi secara verbal dengan menuliskan kata-kata kasar dan tidak beradab?.
Tidak lama. Akun AHAT aktif lagi. Yang katanya diblokir tapi bisa kembali aktif dengan cepat. Saya karena postingan saya mendapat report, fitur mengirim saya diblokir selama 24 jam. Sementara AHAT bisa kembali mengambil kendali atas akunnya hanya dalam waktu yang tidak begitu lama, sambil menulis status-status terbaru?. Keculasan apa ini?
Begitu kembali mengaktifkan akunnya, AHAT kembali melanjutkan provokasinya. Begini awal statusnya:

Tapi ada yang aneh, dari serangkaian makar yang disebutkan dilakukan atas Syiah, AHAT sama sekali tidak menyinggung mengenai kasus penculikan dan penganiayaan yang menimpa AS. Mengapa?

Lebih mengherankan lagi, AHAT menghapus postingan2nya mengenai kasus itu. Apa yang disembunyikan?
Lihat tanggal pemostingan tanggal 6 Juli, langsung melompat ke hari ini 11 Juli. Status tanggal 9 dan 10 yang memuat penjelasan kasus yang menimpa AS di hapus dari wallnya.

Dan ketika ada yang menanyakannya… AHAT sama sekali tidak memberi respon apa-apa.

Lihat yang ditanyakan akun Andri Alfiansyah. Mengapa tidak dijawab?

Kita kembali ke status provokasi AHAT untuk membasmi Syiah. Lihat betapa lihai dia memutar balikkan fakta. Warga Syiah Sampang yang menjadi korban, tapi disebut sebagai pelaku. Justru korban terbunuh jatuh dari pihak Syiah.

Sampai disini, apa anda masih menaruh percaya atas AHAT dan orang-orangnya? atas keanehan-keanehan dari kasus ini? Setelah katanya terkumpul 65 juta yang dihimpun dari dana netizen, kemana pertanggungjawabannya?

Apa alasan AHAT menghapus postingan2nya mengenai kasus yang menimpa AS itu? mau menguburkan dan melupakan saja, karena sandiwara ini ternyata terbongkar semudah itu?

sementara fitnah sudah tersebar dan kebencian sudah sedemikian tersulut?. Mengapa anda tidak menanyakan itu? mengapa tidak ada sikap kritis?

sementara terhadap informasi yang berbeda dari yang disampaikan AHAT, anda sedemikian kritis dan bertanya sedemikian detail. Apa AHAT itu Nabi yang al Amin dan bisa dipercaya apapun yang disampaikannya?. Sementara saya yang diklaim Syiah, seakurat apapun fakta yang saya beberkan, anda menganggapnya angin lalu, malah berbalik memfitnah dan menuduh saya merekayasa semua ini?.

Wallahu al Musta’an.
Berpikirlah wahai orang-orang yang berakal. Saya tidak menulis ini untuk mengajak anda menjadi Syiah. Syiah tidak lantas menjadi terbukti sebagai ajaran yang benar, hanya karena saya membongkar kebohongan dan fitnah AHAT. Tapi maukah anda merelakan diri anda percaya pada fitnah begitu saja?

bahkan menjadi bagian yang turut ambil bagian dan turut andil dalam penyebarannya.

Lihat kontradiksi ini. Ketua MUI menyatakan, Syiah yang mengaku tobat harus diuji dulu selama 5 tahun, untuk menunjukkan mantan Syiah itu tidak lagi taqiyah. Tapi mengapa hal itu tidak berlaku bagi AS padahal dia mengaku bukan Syiah awam, melainkan tokoh penting Syiah di Indonesia, bahkan belajar di kota Qom Iran… mengapa pengakuan2nya lantas dipercaya dan tidak ada proses ujian yang memakan waktu 5 tahun dulu untuk dia?

Mengapa ketika DR. Jalaluddin Rahmat yang tokoh Syiah meskipun telah memperlihatkan ijazah asli dan telah melalui pembuktian dipengadilan, masih juga difitnah memiliki ijazah dan gelar palsu? sementara AS hanya modal ucapan, pengakuannya sebagai alumni Universitas Imam Khomeini di Qom lantas dipercaya?. Ada apa dengan otak anda?
Lihat cerita orang ini, yang langsung percaya pada AS si Mantan Syiah.

Semudah itukah percaya, meski tanpa bukti?. Sementara meskipun saya mengajukan bukti2 ini sedemikian lengkap tanpa rekayasa sedikitpun, anda menyebut saya berdusta dan menyebar fitnah hanya karena keberadaanku sekarang di Iran dan itu identik dengan Syiah?. Enak benar, hanya karena saya dituding Syiah, semua bukti yang saya ajukan jadi tertolak, sementara AHAT hanya modal surban dan pengetahuan salafnya lantas dipercaya apapun yang dikatakannya, meskipun tanpa bukti sama sekali. Apa cukup, mengatakan “Uang anda pasti kami salurkan ke yang berhak” lantas itu menjadi bukti bahwa apa yang dikatakannya pasti dikerjakannya?. Kalau begitu tidak usah ada bukti transaksi apapun dari bank Syariah, karena semua karyawannya muslim. Kalau begitu harusnya mantan presiden PKS jangan dipenjara, karena dia muslim, dan bukankah dalam pengakuannya, dia mengatakan tidak bersalah, dan tidak melakukan suap?. Harusnya Ustad Guntur Bumi tetap tidak boleh diadili dan dijadikan tersangka, hanya karena ada laporan dari orang-orang yang kena tipu dari praktik pengobatannya, sebab dia itu muslim, seorang ustad pula, jadi dengan menyandang posisi itu, apapun perkataannya harus diterima dan yang melaporkan kesalahannya harus dituding telah menebar fitnah.

Akal.. Kemana akal???
Nalar juga sepertinya ikutan cuti panjang..
Babak belur sampai muntah darah tapi muka mulus tanpa luka..
Diculik dua hari ga dikasih makan.. Tapi masih kuat ngelawan 6 orang plus lompat dari mobil yang lagi jalan.. Sekali lagi tanpa luka!!!
Disuntik cairan sihir yg bikin linglung.. Tapi bisa cerita detail kronologi penculikan..
Sampai pasukan assassin yang super canggih..
Haddewh..

Berasa nonton film Bollywood yang gagal ngehits..
65juta yang menggiurkan..
Hanya dalam tiga hari..
Itu juga kalo ga nipu lagiiii..
Di Rumah Sakit tapi gada dokter atau perawat yang tanganin.. Malah Tukang Rukyah..
Aahhh… Inilah.. Ayat-ayat Allah dibuat mainan.. Bukan dikaji..
Kalo masih punya nyali..
Kalo masih punyai akal sehat
Muncullah kau, Pul..
Itu juga kalo masih ada sisa malunya…

[Akun FB: Debu Dibatas Cakrawala]

Sekarang zaman bukti, siapa yang bisa mengajukan bukti yang tidak lagi bisa dibantah, itulah yang semestinya diterima, bukan hanya bermodalkan katanya…katanya. Atau hanya bermodalkan pengakuan “Saya Muslim”, tapi itu hanya bisa ditunjukkan dari pakaian, dan jenggot saja, tapi tidak bisa ditunjukkan melalui kebagusan akhlak dan kejujuran perilaku.

Sekali lagi, ini bukan masalah Sunni atau Syiah. Kebohongan yang dilakukan AHAT juga tidak ada kaitannya dengan ajaran Salaf yang diyakininya. Ini masalah apakah yang disampaikan AHAT didepan umum itu, benar atau tidak. Berdasarkan fakta atau tidak.
Ini saja dulu. Saya sudah menyampaikan, terserah pada anda. Saya hanya meminta, jangan rusak amalan ibadah di bulan Ramadhan ini dengan menjadi penyebar fitnah. Terlebih lagi turut ambil dalam terjadinya INDONESIA BERDARAH, yang diidam-idamkan AHAT dan kelompoknya.

Jika ini masih berlanjut, semoga setidaknya ini membuat anda takut, jika anda tidak takut pada ancaman Allah Swt. Dendanya sampai 1 milyar, butuh banyak sandiwara yang harus anda lakukan dengan asumsi satu adegan sandiwara anda bisa kumpulkan 65 juta.
Oh ya, pak AHAT, kali lain, jika ada dari pengikut atau teman anda dianiaya, segera laporkan polisi, bukan membuat status meminta sumbangan. Saya minta maaf telah membuat anda strees.

Wallahu ‘alam Bishshawwab
Ismail Amin
Sementara menetap di Qom-Iran

Kunjungi Fan Page kami di Facebook Ismail Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s